Categories: OPINI

BUNUH DIRI DI GUNUNGKIDUL, HANTU DI SIANG BOLONG

WONOSARI, SENIN PON – Tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul terus mewarnai halaman media, baik cetak maupun elektronik. Pemda membentuk Satgas Berani Mati, gagal melaksanakan tugas. Substansi bunuh diri tidak dipahami secara memadai, sehingga fenomena bunuh diri menjadi hantu di siang bolong.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kebingungan mencari rujukan guna menekan angka kematian karena bunuh diri.

Intelektual yang mengaku ahli di bidangnya, seperti dokter, psikholog, cenderung mengumbar teori, tidak menyelesaikan masalah.

Bangsa manusia dari jenjang pinter hingga paling pinter, selalu menghindari rujukan dasar yang tak mungkin dibantah. Mereka emoh menengok peringatan sang pencipta. Padahal, di dalam Al-Quran Surat Anisa Ayat 97 peringatan itu sangat terang benderang.

“Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, bagaimana kamu ini?”

Mereka menjawab, Kami orang-orang yang tertindas di Bumi (Mekah).

Mereka (para malaikat) bertanya, Bukankah Bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di Bumi itu? Maka orang-orang itu tempatnya di Neraka Jahanam dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali.

Mezalimi diri sendiri seperti dengan bunuh diri dengan alasan tertidas di bumi (miskin, tidak diperhatikan, sakit sepanjang tahun, lapar dan sejennisnya, merupakan kegagalan besar sebagian bangsa manusia dalam memahami dirinya.

Segala sesuatu yang ada di bumi dan langit adalah milik Allah SWT. Dia, tidak merasa berat memelihara itu semua. Nyawa, tak terkecuali adalah milik Tuhan Yang Maha Tunggal.

Memahami diri sendiri. formulasinya adalah nyawa bukan milik manusia. Semua nyawa akan kembali ke asal, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan (takdir). Mengambil nyawa sendiri sama dengan mengambil barang yang bukan miliknya.

Bunuh diri, bisa diterjemahkan, bahwa manusia mengambil hak prerogratif Allah SWT. Sementara mencuri hak Allah, tidak pernah terjadi pada dunia binatang. Tidak pernah terjadi ada ketonggeng bunuh diri, karena bininya diembat tetangga.

Manusia diciptakan dalam konstelasi kesempurnaan, tetapi membedah gejala bunuh diri mereka tidak mampu.

Meminjam pisau analisa Slamet, S.Pd. MM, kecenderungan bunuh diri itu karena rohani/ jiwa seseorang kekurangan asupan. Salah satu asupan utama, menurut Slamet adalah agama.

“Agama apa pun,” kata dia. (Bambang Wahyu Widayadi)

infogunungkidul

Recent Posts

Kapolda DIY Imbau Masyarakat Tak Mudah Terprovokasi

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, Kepolisian Daerah (Polda) DI. Yogyakarta menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, tidak…

10 jam ago

Ratusan Mahasiswa UNY Ikuti Wisuda Periode Oktober 2026

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, SEBANYAK 876 mahasiswa Negeri Yogyakarta (UNY) mengikuti wisuda lulusan program Doktor,…

11 jam ago

Mencuri Motor, Warga Gunungkidul Ditangkap Polisi

BANTUL - RABU PON, SEORANG pria berinisial AS (34) warga Panggang, Gunungkidul, ditangkap polisi usai…

2 hari ago

Lemot Buka Rekam Medis, RSUD Wonosari Disomasi

GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…

3 hari ago

Keluarga Besar Partai Golkar Berduka, Tokoh Politik Senior Berpulang

GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…

4 hari ago

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

6 hari ago