Categories: BUDAYA

Kamandaka Mengamuk di Bekas Terminal

WONOSARI, Senin Pahing–Alkisah Adipati Pasir Luhur berduka lantaran Dewi Ciptarasa, putri bungsunya belum juga ketemu jodoh. Begitu datang lamaran, yang hendak jadi menantunya adalah Prabu Pulebahas dari Nusa Kambangan. Mengamuklah Jenderal Kamandaka yang juga mengharapkan cinta sang Dewi Ciptarasa.

Itulah narasi pembuka lakon Ketoprak Mataram yang mengambil lakon Jenderal Kamandaka yang diperankan gabungan seniman se Gunungkidul di eks Terminal Baleharjo, Minggu malam (03/09). Ketoprak digelar sebagai pamungkas acara penutupan Parade Seni dan Pameran Produk Daerah 2017. Beberapa seniman kawakan seperti Waluyo, Joni Gunawan, Suhin, Gatot Sujarno hingga Aris Wirya ambil bagian dalam pementasan ini.

“Jenderal Kamandaka ini lakon carangan yang disadur dari kisah Lutung Kasarung. Digubah sedemikian rupa yang sarat pesan moral namun mampu membuat penonton tertawa berkepanjangan,” ulas sutradara joni Gunawan.

Dalam skenario, Adipati Pasir Luhur mengajak putra dan menantunya berburu ke hutan. Dewi Ciptarasa ikut menyertai, di tengah hutan tersebut ketemulah dengan hewan lutung (red-sejenis kera) yang lucu. Lutung tersebut oleh Dewi Ciptarasa diboyong ke istana Pasir Luhur.

Eloknya, lutung tersebut dapat berbicara seperti manusia. Dan terungkaplah kalau lutung tersebut ternyata Raden Kamandaka yang memang jatuh cinta sama Dewi Ciptarasa. Jadilah keduanya sepasang kekasih.

Meski awalnya ditentang Adipati Pasir Luhur, namun Raden Kamandaka dan Dewi Ciptarasa tetap nekad menjalin hubungan kekasih. Di tengah suasana runyam, datanglah Prabu Pulebahas dari Nusa Kambangan yang memaksa harus dinikahkan dengan Dewi Ciptarasa.

Jika ingin beristrikan Dewi Ciptarasa, mau tak mau Raden Kamandaka harus berjuang menyingkirkan Prabu Pulebahas. Mengamuklah Raden Kamandaka yang menjadi jenderal bagi prajurit dalam mengalahkan Prabu Pulebahas. Akhirnya pentas ketoprak berakhir dengan kemenangan Jenderal Kamandaka yang sukses mempersunting Dewi Ciptarasa.

Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, CB Supriyanto, S.IP kala menutup Parade Seni dan Pameran Produk Daerah 2017 berharap acara sejenis terselenggara secara rutin.

“Namun harapan saya jangan bersamaan dengan peringatan HUT RI, carilah waktu yang lain,” pintanya.

Jika dilaksanakan agak jauh dari peringatan HUT RI, sambung CB, penonton akan banyak dan diharapkan menjadi ikon baru pemancing wisatawan berkunjung ke Gunungkidul. Red

infogunungkidul

Recent Posts

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

2 hari ago

Dugaan Malpraktik RSUD Wonosari akan Dibawa ke-Majelis Disiplin Profesi

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…

3 hari ago

Veda Ega Pratama Pembalap Indonesia Asal Gunungkidul Mengukir Sejarah Besar

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…

3 hari ago

Kekeringan di Gunungkidul, UPZ UP45 Salurkan Puluhan Ribu Liter Air Bersih di Ngawen

GUNUNGKIDUL— KAMIS PAHING, Di tengah persoalan kekeringan yang terus terjadi pada setiap tahun, kebutuhan air…

5 hari ago

Puluhan Gambar Muncul, Berikut Hasil Lengkap Bukaan Cupu Kyai Panjala

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON. Upacara adat tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala dilaksankan pada hari ini,…

1 minggu ago

Hari Jadi ke-196, Bupati – Wakil Bupati Gunungkidul Kian Memanas

GUNUNGKIDUL - MINGGU PON, Beberapa agenda kegiatan peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196 terlaksana dengan…

1 minggu ago