PATUK, Senin Legi – Tak banyak ditemukan, doa dalam kenduri rasulan diamini dengan lantang. Gayeng karena teatrikal. Pak Modin melafat doa, warga setengah berteriak mengucapkan amin.
Warga Padukuhan Gumawang, Desa Putat, Kecamatan Patuk melakukan doa kenduri model begitu sejak tahun 60-an hingga sekarang.
“Melafat amin, kalau perlu sekeras-kerasnya,” kata Tumiyo Dukuh Gumawang, (18/07).
Mengapa mengamini doa mirip dengan pemain teater, Tumiyo mengatakan tidak ada tokoh adat yang bisa menjelaskan.
Mengingat masa kecil, lanjut Tumiyo, para tetua dan pemuka mengajarkan begitu. Hingga kini, tradisi berdoa seperti itu tetap berlanjut.
Bahkan termasuk ikrar sebelum dibacakan doa dalam bahasa arab. Modin atau rois masih kokoh membagi-bagi uraian menjadi puluhan bab.
“Ingkang sak bab malih kangge memetri danyang smoro bumi ingkang cikal bakal padukuhan Gumawang,” ujar Rois Ahmad Daldiri dalam prolog doanya.
Yang klasik tak hanya prolog doa. Cara menghormati warga dusun, tamu tetangga padukuhan, serta perangkat desa yang hadir pun sangat unik.
Tak pandang bulu, orang yang hadir pada jamuan kenduri wajib membawa dua bungkus makanan yang dipaket dalam kemasan daun kelapa tua yang mereka sebut sarang. Agung Sedayu
GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kasus dugaan penganiayaan dan pengeroyokan yang tergolong brutal bahkan sadis terhadap…
WONOSARI – RABU KLIWON, Seorang remaja di Gunungkidul, menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan brutal oleh…
GUNUNGKIDUL - SABTU LEGI , SEORANG Lansia berhasil ditemukan tim SAR Gabungan dengan selamat setelah…
GUNUNGKIDUL — RABU PON, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) warga Kalurahan Katongan, Kapanewon Nglipar, Kabupaten…
GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…