“Tradisi ini turun temurun dilaksanakan tiap tahun, diawali tanggal 1 Jumadilakir diakhiri antara tanggal 20 – 25 yang bersamaan dengan hari Senin atau Kamis,” terang Mudiyono.
Puncak acara, warga berkumpul di Balai Sri Penganti membawa nasi udhuk, ingkung ayam jawa jago dan tumpeng robyong.
Bupati Gunungkidul Hj. Badingah S.Sos dalam acara Madilakiran menyampaikan, tradisi harus dilestarikan. Kearifan lokal dan adat budaya adi luhung akan menjadi daya terik bagi pariwisata di Gunungkidul.
“Saat ini terjadi perubahan pola kehidupan. Sudah selayaknya tradisi warisan leluhur yang bernilai positif wajib kita lestarikan. Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul, saya sangat mendukung tradisi upacara Madilakiran ini,” ungkap Badingah.
Bupati berpesan dalam menyambut pesta demokrasi Pemilu 17 April mendatang, agar warga menjaga persatuan dan kerukunan. Ag/Ig
Page: 1 2
YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua…
GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Pagi buta, M (76) seorang kakek warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo,…
GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…
YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, KABID Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan membenarkan adanya kendaraan dinas…
YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan…
YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, Sebanyak 1.054 lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode IV…