Categories: OPINI

KUE PARIWISATA GUNUNGKIDUL BELUM, ATAU TIDAK PERNAH MERATA

WONOSARI, RABU PAHING-Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat. Strategi tersebut dinilai jitu. Efeknya, tiga (3) agen (kelompok) masyarakat benar-benar menikmati langsung adanya kegiatan pariwisata. Sisi lain, ada pula warga yang belum merasakan tetesan rupiah pariwisata, disinyalir jumlahnya lebih banyak.

Agen penikmat langsung yang dimaksud adalah (1). pengusaha, (2). penguasa atau mantan penguasa, dan (3). segelintir elit tingkat desa. Politisi PDIP sekaligus anggota DPRD DIY, Bambang Chrisnadi mempertanyakan soal keterlibatan tiga agen penikmat kue pariwisata Gunungkidul. Supaya tidak menimbulkan salah paham, menurut Bambang Chrisnadi, ketiga kelompok tersebut perlu dijabarkan secara rinci.

“Pengusaha, penguasa atau mantan penguasa, dan elit desa berbuat apa, perlu diterangkan, ujar Bambang Chris.

Fakta di lapangan menunjukkan, pengusaha berjualan aneka kuliner dari yang murah sampai ke yang paling mahal, atau membangun hotel dan yang lain. Ini kelompok pertama.

Kelompok kedua, penguasa atau mantan penguasa. Mereka gencar merancang proyek yang nilai angarannya cukup besar, sementara dari sisi kemanfaatan nyaris tidak/ kurang bisa dirasakan.

Contoh nyata gedung pusat infomasi pariwisata yang dibangun di bekas kantor kecamatan Patuk, dan monumen batu Geopark, di jalur menuju Gua Ngingrong. Ada lagi, Taman Saptosari dibangun, tetapi fungsinya tidak jelas.

Kelompok ketiga, adalah segelintir elit tingkat desa. Begitu punya kesempatan dipercaya mengendalikan Kelompok Sadar Wisata (Podakrwis) perilaku elit desa banyak berubah. Elit yang dimaksud, bebas keluar masuk hotel dengan alasan presentasi management pengembangan obyek wisata (obwis), atau alasan tukar informasi soal kiat pemasaran.

Ketiga kelompok tersebut salah? Tentu saja tidak. Mereka adalah contoh yang secara nyata menerima langsung tetesan rupiah atas boomingnya pariwisata di Gunungkidul.

Ihwal berapa puluh ribu total ketiga kelompok tersebut belum pernah ada lembaga pemerintah ataupun swasta yang melakukan penelitian.

Pertanyaan berikutnya, berapa ratus ribu warga Gunungkidul yang tidak sempat mencicipi kue pariwitata? Ini hal sangat menarik untuk didiskusikan.

Sekedar mengingatkan, warga yang tidak menikmati langsung atas booming pariwisata jumlahnya kemungkinan mencapai 50% dari jumlah penduduk. Hal tersebut merupakan pekerjaan rumah cukup berat, bagi Bupati, setelah Hj. Badingah, S.Sos. Bambang Wahyu Widayadi

infogunungkidul

Recent Posts

Polda DIY Raih Penghargaan 12 Satker Predikat Pelayanan Prima & Zona Integritas

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua…

5 hari ago

Kakek 70 Tahun Gantung Diri di Pohon Jambu Mete

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Pagi buta,  M (76) seorang kakek warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo,…

5 hari ago

Scoopy Tabrak Ambulan PMI, Satu Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…

5 hari ago

Mobil Brimob Polda DIY Terserempet KA Bandara

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, KABID Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan membenarkan adanya kendaraan dinas…

5 hari ago

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Peringkat Tertinggi PTKIN di Indonesia

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan…

5 hari ago

Ribuan Lulusan Pascasarjana UGM Jalani Proses Wisuda

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, Sebanyak 1.054 lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode IV…

5 hari ago