PUASA diserupakan dengan mandi sebulan penuh, targetnya supaya manusia meraih kemenangan setelah setahun lamanya manusia berkubang di lumpur dunia. Pada 13 dan 14 Mei 2021 dipastikan ada komunikasi aneh terkait tegur sapa setelah sholat Idul Fitri, karena sama-sama goblok.
Puasa merupakan ibadah yang menuntun manusia agar kembali kepada kesucian, kata Kyai Supandi, da’i kocak asal Kota Semarang pada setiap kesempatan pengajian halal bil halal tahun 2020.
Tamu Ramadan menawarkan kolam hidayah maha luas kepada manusia dengan kalimat pendek, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Apa sebelumnya tidak bertakwa, tentu bertakwa tetapi karena godaan dunia ketakwaan itu tergerus dan menipis.
Gambaran kongkretnya, usai ibadah Ramadhan 2020, manusia kembali bergulat dengan lumpur super kumuh.
Tahun 2021 dan seterusnya selalu didatangkan kolam besar yang sama untuk mandi membersihkan segenap anggota jasmani dan rohani.
Setelah mandi sebulan suntuk apa setiap manusia kembali bersih, Kyai Supandi bilang tidak.
Ada bagian-bagian tertentu, ujung kuku misalnya, masih terlihat adanya jejak hitam, ini yang jarang disadari oleh sebagian besar manusia.
Akibatnya, setelah puasa sebulan penuh manusia merasa bersih. Menurut Kyai Supandi ini sangat keliru.
Dia kemudian melihat ada pemandangan lucu dan aneh. Seorang muslim bertemu teman penganut agama lain di hari raya Idul Fitri.
Si Muslim berucap,” Minal Aidin Wal Faidzin yang artinya (Semoga Anda) termasuk orang-orang yang kembali sebagai orang yang menang ( orang yang dalam kesucian).
Teman yang non muslim memaknai kalimat tersebut sebagai mohon maaf lahir batin. Lalu responnya menjadi aneh dan tidak nyambung. “Iya pada-pada dan kosong-kosong ya Bro.”
Ya ampun, ujar Kyai Supandi, yang kosong-kosong apanya? Sing pada apane? Kuwi kan pada gobloke Muslim yang berpuasa satu bulan penuh itu belum tentu kembali bersih, apalagi yang tidak menjalaninya.
Ada kebiasaan yang salah dalam bertegur sapa di tengah merayakan hari raya Idul Fitri. Tahun 2021 tidak terkecuali. Di media sosial nanti pasti akan berseliweran kalimat serupa itu.
Kyai Supandi menyarankan, kalau tidak paham bahasa Arab, sebaiknya digunakan bahasa yang di antara kedua belah pihak saling memahami.
Menggunakan bahasa Jawa juga boleh. Misalnya, nyuwun pangapunten sedaya kalepatan, mugi Gusti Allah paring kawilujengan dateng kula lan panjenengan.
“Jawabannya bisa simpel, njih dhawah sami- sami, tetapi jangan dibalik sami-sami dhawah,” kelakar Kyai yang mualaf, karena awalnya dia adalah seorang Rama. (Bambang Wahyu Widayadi)
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…
GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…