DI bumiNya kaki, tangan, mulut, telinga, mata dan pikiran lelaki itu ditutup dengan selembar daun. Serupa dulu Adam dan Hawa tertangkap tangan menikmati buah kuldi.
Hati yang jatuh bertahun-tahun dia gendong di pelataran Ramadhan. Apakah bisa dan boleh kembali ke haribaan maha mulia, tidak lagi dia pikirkan.
Adanya seluruh nafas menghamba. Pada desir rambut kalimat patah terbata karena kesalahan juga karena kebenaran selalu tertunda.
Hati, dan bukan yang lain terus membakar doa Baru bisa mendingin ketika Tuhannya menyapa tanda sujudnya tidak sia-sia.
Itu pengharapan, terkabul atau sebaliknya dia merasa tidak pantas untuk mengeluh. Hanya bersandar pada takdir dalam jemari bermata tasbih.
Dia pun menengadah dengan kerendahan hati:. Ya Allah Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalah Tuhan yang maha penyayang di antara semua penyayang. (Bambang Wahyu Widayadi)
PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…
GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…
SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…
YOGYAKARTA - JUM'AT PAHING, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan, aksi demontrasi yang berlangsung pada siang hingga…
YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X secara…