EKONOMI

Masyarakat Gunungkidul Tidak Butuh Rumus Pertumbuhan Ekonomi

GUNUNGKIDUL-SABTU PAHING | Berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, keinginan rakyat sangat simpel. Dengan cara apa dan bagaimana agar pertumbuhan ekonomi bisa sama seperti Propinsi Bali.

Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencatat, selama Juli – September 2022, perekonomian Bali tumbuh sebesar 8,09 %.

Pencapaian itu jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,72%. pada 7 Nopember 2022.

Arif Setiadi, dr. Tugiman dan tokoh lainnya berpendapat sesuai pengalaman masing-masing Arahnya untuk kemajuan Gunungkidul.

“Iki rada angel, ujar Arif Setiadi, anggota DPRD DIY dari Fraksi PAN, 25-2-2023.

Menurutnya, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi suatu daerah, setidaknya harus memperhatikan 4 apek: 1. konsumsi, 2. investasi, 3. belanja daerah dan 4. kinerja ekspor impor.

“Tatkala kondisi 4 aspek tersebut bagus, maka pertumbuhan ekonomi juga bagus,” jelas Arif Setiadi.

Ketika sudah diketahui existing dan potensi dari ke-4 aspek itu, Pemda harus menentukan skala prioritas, aspek mana yang mau digenjot.

“Syukur-syukur semua aspek bisa digenjot. Tetapi jika tidak, maka Pemda harus berani ambil langkah strategis, prioritas mana yang didahulukan digenjot,” terangnya.

Di samping secara literasi, lanjut Arif, beberapa langkah peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah akan sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh upaya meningkatkan SDM, seberapa optimal mengelola SDA, seberapa baik pengembangan usaha kreatif UKM, seberapa besar pemanfaatan Teknologi Informasi dan seberapa sigap penyediaan infrastruktur pendukung perekonomian.

Doktor Tugiman guru besar pada Universitas Pasundan pendapatnya seiring dengan Arif Setiadi. Perbedaanya dia secara tegas dan rinci lebih bertumpu pada penganekaragaman produksi barang.

Gunungkidul menurutnya banyak UMKM yang memproduksi aneka barang. Sesuai data jumlah UMKM saat ini sebanyak 22.623 unit.

“Saya pernah melakukan pelatihan mandiri, dengan biaya pribadi kepada UMKM. Mereka sangat potensial mendukung pertumbuhan ekonomi di Gunungkidul,” terang intelektual asal Kedungpoh Nglipar Gunungkidul itu.

Menurut ahli hukum tata negara ini, SDM Gunungkidul tidak butuh teori bagaimana cara menghitung pertumbuhan ekonomi.

Yang dibutuhkan adalah bagaimana cara menembus pasar. Ini, menurutnya merupakan tugas berat bagi pemerintah daerah, yang selama ini agak terkesampingkan.

Berbeda dengan pikiran Sunarto wirausahawan asal Ngawis yang relatif lama tinggal di Jakarta.

Menurutnya ada tujuh faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

“Pertama, sumber daya alam, kedua sumber daya nanusia, ketiga, akumulasi modal daerah, keempat tenaga organisasi produksi hasil kekayaan alam daerah, kelima ilmu pengetahuan teknologi, keenam politik dan management administrasi, dan ketujuh spek sosial budaya,” kata Suharto.

(Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Polda DIY Raih Penghargaan 12 Satker Predikat Pelayanan Prima & Zona Integritas

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua…

3 hari ago

Kakek 70 Tahun Gantung Diri di Pohon Jambu Mete

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Pagi buta,  M (76) seorang kakek warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo,…

3 hari ago

Scoopy Tabrak Ambulan PMI, Satu Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…

3 hari ago

Mobil Brimob Polda DIY Terserempet KA Bandara

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, KABID Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan membenarkan adanya kendaraan dinas…

3 hari ago

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Peringkat Tertinggi PTKIN di Indonesia

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan…

4 hari ago

Ribuan Lulusan Pascasarjana UGM Jalani Proses Wisuda

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, Sebanyak 1.054 lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode IV…

4 hari ago