OPINI

MINIATUR BANJIR NABI NUH

WONOSARI, Rabu Pon – Sebagian masyarakat Gunungkidul: Kecamatan Tanjungsari, Semanu, Semin, Nglipar, Gedangsari, Paliyan, Patuk, Playen dan yang lain akhir Novemer 2017 terkepung air. Ditengah kegelisahan warga, Banjir Nabi Nuh patut menjadi bahan renungan.

Tanda bakal munculnya malapetaka itu dimulai sejak Kamis Pahing (23/11) hingga Senin Legi (25/11). Hujan turun dengan kekerapan lain dari biasanya. Rintik hujan sejam turun, sejam  berhenti, secara menerus terjadi sepanjang hari. Malam reda, pagi hari mulai lagi.

Selasa Paing, (28/11), Rabu Pon (29/11) hujan menghebat mulai pagi hingga pagi, nyaris tanpa henti, jeda hanya sebentar. Tidak satu orang pun bisa menerka, kapan hujan seperti ini bakal mereda.

Teringat sejarah Banjir Nabi Nuh, ribuan manusia tewas, termasuk putra kesayangan Nabi. Yang selamat hanyalah penumpang perahu Nabi yang setia kepada perintah Sang Pencipta.

Angin diperintah untuk meniup laut. Uap merangkak naik, merayap pegunungan, menggumpal menjadi awan putih. Pada ketiggian terntentu, awan mendingin, membatu, kemudian kembali turun ke bumi sebagai hujan.

Karena hujan berdurasi 40 hari 40 malam , sungai meluap hebat. Air bah menggenang seluruh daratan. Tamatlah riwayat sebagian manusia pada zaman Nabi Nuh yang membangkang perintah.

Sungai meluap, air menggenang daratan, pohon tumbang, tebing ambrol bukan kesalahan alam, bukan pula sebuah bencana. Fenomena tersebut adalah wujud nyata dari kesetiaan bumi geni banyu angin, terhadap perintah Sang Khalik.

Kini, pertanyaan sederhana pun muncul bersamaan peristiwa yang terjadi di tengah samudra Hindia.

Benarkah manusia abad 20 masih setia sebagai kalifatullah fil ardh (utusan Alloh di bumi), yang tugas pokoknya adalah menyelamatkan bumi, bukan merusak.

Apakah banyak manusia menyadari, bahwa menebang pohon secara semena-mena bisa mengakibatkan munculnya dua bibit badai tropis di laut lepas?

Awan putih yang melahirkan hujan sehari-hari adalah pelajaran berharga. Tulisan ini adalah munajat kecil, agar Banjir Nabi Nuh tidak terulang.

Catatan istimewa, Kabupaten Gunungkidul 49 tahun silam (1968) pernah dilanda peristiwa banjir serupa. Sejumlah rumah warga Padukuhan Ngalang, Desa Ngalang, Kecamatan Patuk (kala itu) hanyut terseret arus.

 

Penulis: Bambang Wahyu Widayadi   

infogunungkidul

Recent Posts

Lemot Buka Rekam Medis, RSUD Wonosari Disomasi

GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…

6 jam ago

Keluarga Besar Partai Golkar Berduka, Tokoh Politik Senior Berpulang

GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…

1 hari ago

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

3 hari ago

Dugaan Malpraktik RSUD Wonosari akan Dibawa ke-Majelis Disiplin Profesi

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…

4 hari ago

Veda Ega Pratama Pembalap Indonesia Asal Gunungkidul Mengukir Sejarah Besar

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…

4 hari ago

Kekeringan di Gunungkidul, UPZ UP45 Salurkan Puluhan Ribu Liter Air Bersih di Ngawen

GUNUNGKIDUL— KAMIS PAHING, Di tengah persoalan kekeringan yang terus terjadi pada setiap tahun, kebutuhan air…

6 hari ago