Mudi Lestari, Lansia Pecinta Lingkungan Pelopor Budidaya Pepaya Cangkok Asal Patuk

151

PATUK – SENIN PON | Mudi Lestari (68), warga RT 28 RW 07, Padukuhan Putat Wetan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mencoba belajar menangkarkan pepaya dengan cara mencangkok.

“Saya belajar pada pepaya Vege. Itu adalah akronim untuk memudahkan penyebutan. Kepanjangannya adalah Vegetatif-Generatif,” tuturnya, Senin (14/9/20).

Dia memaparkan, bahwa pepaya bisa dikembangkan secara vegetatif. Artinya, dari batang alias dicangkok. Padahal, kata Perempuan bercucu lima itu, cara yang lazim, pepaya diperbanyak dengan cara generatif, atau dari biji buah.

“Mulanya, saya iseng Googling saja. Saya lakukan percobaan sekitar pertengahan Juli 2020. Ternyata akhir Agustus 2020, cangkokan itu telah berakar,” ujar pegiat lingkungan yang tak pernah berhenti kampanye melipatgandakan lumbung pangan secara outdoor itu.

Maria Helena Mudilestari, demikian nama lengkap aktifis yang pernah mencicipi Kampus IKIP Karangmalang, jurusan Bahasa Jawa itu. Dia mengaku belajar bersama ibu-ibu PKK di Desa dan Dusun, tempat dia bermukim.

Menurutnya, ketika tangan kaum ibu trampil mengolah alam sekitar rumah, maka cadangan pangan, lumbung pangan out door akan selalu tersedia.

Kuncinya, tandas Mudi Lestari, senang dan telaten “ngupokoro” tanduran. Jenis apapun, kalau perlu ditanam di seputar rumah, cukup dengan media pot, atau polyback.

“Teras rumah harus menjadi seperti toserba untuk mencukupi keperluan dapur” imbuh Mudi Lestari.

Kalimat di atas, dia ulang-ulang, setiap bertemu dengan sesama perempuan desa.

Dia, membudidayakan aneka macam tanaman sekitar rumah, karena diilhami seruan yang selalu berkumandang dalam sanubarinya.

Setiap manusia adalah utusan Allah, demikian getaran yang dia pegang teguh. Manusia harus menyelamatkan bumi, dan bukan merusaknya.

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”

Hanya kepada Allah Medilestari memohon, kelancaran segala urusan. Tidak terkecuali tanaman pepaya Vege percobaan yang dia lakukan.

“Saya selalu berdoa dengan tangan dan perbuatan,” ujar perempuan yang lahir di Ngawi, Jawa Timur 22 Maret 1952 itu

Yang menentukan keberhasilan, sampai berbuah misalnya, adalah Tangan Agung Allah Ta’ala, bukan kreatifitas tangannya.

“Manusia ora isa apa-apa. Tapi nek Gusti Allah, apa-apa Isa,” pungkas Mudi Lestari, mengutip pernyataan Gus Miftah. (Bambang Wahyu Widayadi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.