OPINI

NEGERIKU MENGANUT DEMOKRASI GADO-GADO

WONOSARI, Jumat Kliwon–Indonesia, mengutip preambul Undang-Unang Dasar 1945, berdasarkan Pancasila. Demokrasi yang diyakini dan dianut pun adalah Demokrasi Pancasila. Dalam keseharian, Negeri ini menjalankan Demokrasi Liberal. Hanya satu propinsi yang secara sadar patuh pada UUD 1945.

Nafas demokrasi asli Indonesia termaktub dalam sila ke empat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Substansi demokrasi Pancasila, adalah kebijaksanaan dalam formulasi mufakat. sementara sejak  Indonesia merdeka, ruh permufakatan itu hanya diterapkan setengah-setengah.

Perbedaan pendapat di tingkat legeslatif tidak diselesaikan secara mufakat, melainkan ditempuh melalui pungutan suara. Meski suatu pendapat salah, karena diamini oleh bannyak suara, maka pendapat tersebut dianggap benar.

Tentang Demokrasi Pancasila, Soeharto, Presiden RI ke 2 menyatakan pandangan, sekaligus menerapkannya, bahwa jumlah partai politik di Indonesia tidak perlu banyak.

Pada masa kekuasaannya, partai politik hanya Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kala itu Golongan Karya belum disebut sebagai partai politik.

Soeharto juga menyatakan, di Indonesia tidak ada oposisi. Artinya, tidak ada partai yang berseberangan dengan kebijaksanaan pemerintah.

Orde kekuasaan Soeharto rontok, muncul puluhan partai politik baru. Parpol tumbuh seperti cendawan di musim hujan, seperti di pemilu pertama 1955.

Permufakatan, sebagai nafas demokrasi asli Indonesia sulit berkembang. Saat ini, yang menerapkan permufakatan tersebut hanya Propinsi Daerah Istimewa Yogyakata.

DPRD, juga rakyat setempat bermufakat, Sri Sultan Hamengku Buwono ke 10,  diangkat menjadi Gubernur, tidak perlu melalui proses pemilihan. Efek atas kemufakatan itu, dalam hal proses menentukan Gubernur, masyarakat DIY paling adem ayem.

Banyak orang mengatakan, model DIY membunuh demokrasi. Demokrasi yang mana? Demokrasi liberal itu pasti, tetapi demokrasi Pancasila, DIY lah yang menjalankan secara murni dan konsekuen.

Dari paparan pendek di atas tersimpulkan, Indonesia menerapkan demokrasi gado-gado. Paham liberal dianut, demokrasi Pancasila di sebagian tempat dijalankan.

Tidak salah, manakala Slamet Raharjo dan Butet Kartarajasa dalam acara kocak Sentilan-Sentilun mengklaim, Indonesia adalah negara setengah demokrasi.

 

Penulis: Bambang Wahyu Widayadi

infogunungkidul

Recent Posts

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

6 hari ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

2 minggu ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

2 minggu ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

3 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

4 minggu ago