OPINI

Oligarki Cakarnya sampai Provinsi, Kabupaten dan Kota

DIREKTUR eksekutif lembaga survey kedai kopi Kuncoro Adi Wibowo mengatakan bahwa partai politik seperti PDIP bukanlah oligarki.

Menurutnya, oligarki  itu adalah perorangan, badan-badan, atau organisasi berada di luar sistem demokrasi tetapi kemudian menyetir demokrasi, pemerintahan, dan politik.

Mengutip pemberitaan kompas.com oligarki merupakan sistem relasi kekuasaan yang dikendalikan oleh segelintir atau juga kelompok elite dengan segala mekanisme untuk mempertahankan kekuasaan. Lebih spesifik untuk mempertahankan kekayaan atau modal yang dimilikinya.

Diduga kuat bahwa di Gunungkidul  muncul dua jenis oligarki. Pertama oligarki permanen, kedua oligarki instan. Mereka  terus menggoda dan membayangi jalannya pemerintahan  Bupati H. Sunaryanta.

Pengusaha bermodal besar, meski cacat dalam hal perijinan sempat membuat nyali Bupati Sunaryanta menciut, tidak akan menutupnya walau pandemi mengancam kesehatan warga.

Tidak aneh jika Ketua DPRD Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, SE sempat heran ihwal sikap Bupati Sunaryanta, di awal pemerintahannya.

Pengusaha berkantong tebal itu bercokol di dunia pengembangan pariwisata, yang oleh mantan Sekda Gunungkidul telah 100% selesai membangun infrastruktur fisik, tetapi perijinannya amboradul.

Pemodal besar model begini masuk ketegori oligarki permanen. Mereka selalu menempel kekuasaan, siapa pun yang menjadi Bupati di Gunungkidul.

Warga yang pernah pemilih  Bupati tidak punya kekuatan mengontrol apalagi mengingatkan. Mereka hanya mampu berteriak di luar sistem.

Di samping oligarki permanen ada pula oligarki instan. Kelompok yang kedua ini mempunyai pamrih bukan menambah dan mempertahankan modal tetapi mencari kekayaan.

Sektor yang diincar adalah jabatan di legislatif.  Pileg 2019 sungguh-sungguh terjadi, seorang calon anggota DPRD ditopang dana ratusan juta rupiah.

Tanpa kampanye, dan tanpa unjuk muka di depan calon pemilih, calon anggota DPRD sukses merebut kursi dalam kompetisi.

Anehnya, masyarakat Gunungkidul tidak menyadari, bahwa ini sebuah penyimpangan demokrasi. Sebaliknya mereka justru bangga dan menilai ini sebagai keberhasilan demokrasi.

Jika tidak ada perubahan politik, tahun 2024 bakal dilangsungkan pilpres dan pileg serentak. Kelompok Oligarki di Gunungkidul diduga akan terus bermain di panggung demokrasi. Yang mampu menghentikan hanya para calon pemilih cerdas. Itu pun kalau mau. (Bambang Wahyu Widayadi)

infogunungkidul

Recent Posts

Prof Sony Warsono Resmi jadi Guru Besar UGM

YOGYAKARTA - JUMAT LEGI, PROFESOR Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar…

2 hari ago

Rektor UGM Buka Rangkaian PIONIR, Sambut 11.099 Mahasiswa Baru

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus…

6 hari ago

Momentum HUT RI ke-81, SD Muhammadiyah Mulusan II Unjuk Kemajuan

GUNUNGKIDUL-SENIN PAHING, SD Muhammadiyah Mulusan II Padukuhan Mahbang, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, menggelar kegiatan jalan…

6 hari ago

Seorang Kakek asal Gunungkidul Tewas Tertemper Kereta Api

SLEMAN-SENIN PAHING, SEORANG kakek berinisial N (73) warga Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul,  DIY tewas…

6 hari ago

Ratusan Kakak Asuh Maba UPN Veteran Yogya Jalani Pelatihan Bela Negara di AAU

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 210 mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta yang terpilih sebagai kakak asuh…

6 hari ago

Kekeringan Akibat Kemarau Panjang di Gunungkidul Menjadi Perhatian Banyak Pihak

RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…

1 minggu ago