Categories: PROFIL

Pak Dewan Diajari Menyimak Ulat dan Kupu

NGLIPAR, (Selasa Wage)-Slamet adalah anggota DPRD DIY, di masa kecil hidup di dua dunia, karena orangtuanya memiliki kesibukan berbeda. Hal ini membuat Slamet harus menyesuaikan diri. Selaku mandor hutan bapaknya punya usaha sampingan memelihara ulat sutera sedangkan simbok yang melahirkannya ahli pembuat tempe kedelai.

Pagiyo sang ayah, selalu sibuk. Pulang dari patroli hutan, dia  selalu menbawa daun besaran ( murbai ) untuk pakan ulat sutera.

“Begitupun saya, pulang sekolah membantu mencari daun murbai juga rumput untuk pakan sapi,” ujar Slamet (20/03).

Beternak ulat sutera, lanjut Slamet, adalah pengalaman sangat menyenangkan. Memindahkan bibit ulat, memanen kepompong, memintal dan menggulung sutera merupakan kegiatan sangat mengasikkan.

“Coba kamu belajar dari kehidupan ulat sutera ini, supaya hidup kamu berguna bagi masyarakat,” tutur Slamet mengenang pesan bapaknya.

Pagiyo mencoba menunjukkan, bahwa ulat sutera itu kerjanya cuma makan, tidur dan buang kotoran. Pesan Pagiyo tidak lepas dari ajaran yang terselip dalam tembang Jawa, pada gulangen ing kalbu,  aja pijer mangan nendro ( kuasai hati, hidup ini jangan sebatas makan tidur). Pagiyo senantiasa menyemangati Slamet dengan caranya sediri.

“Kamu harus belajar, jangan bodoh seperti bapak. Masuk SMA kamu harus milih jurusan Pasti Alam (Paspal),” pesan tersebut terngiang di telinga Slamet.

Ulat, diceritakan sebagai binatang yang rakus dan menjijikkan. Begitu pula sebagian besar manusia.

“Kita bodoh kalau hidup ini cuma makan, tidur dan buang kotoran seperti ulat,” tegas Pagiyo.

Kepada Slamet dia mengajarkan, tak akan ada yang peduli terhadap orang bodoh. Ulat sutera dia umpamakan sebagai orang bodoh, tetapi di luar itu dia ceriterakan kehebatannya.

Pada usia tertentu, ulat sutera berehenti makan. Sebagaimana ulat pada umumnya, dia melakukan kegiatan semacam bertapa. Dalam fase ini, ulat kemudian berubah menjadi kepompong. Tak lama kemudian, kepompong berubah menjadi kupu-kupu.

“Meta morfose yang cantik dan sempurna,” demikian Slamet menggambarkan .

Kupu-kupu pada umumnya terbang menjelajah alam. Urusannya bukan lagi sekedar makan (menghisap sari bunga), tetapi membantu penyerbukan.

“Inilah yang Bapak ingin tunjukkan kepada saya, bahwa hidup harus bermanfaat untuk orang lain,” pungkas Slamet.

Agung Sedayu

infogunungkidul

Recent Posts

Lemot Buka Rekam Medis, RSUD Wonosari Disomasi

GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…

2 jam ago

Keluarga Besar Partai Golkar Berduka, Tokoh Politik Senior Berpulang

GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…

22 jam ago

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

3 hari ago

Dugaan Malpraktik RSUD Wonosari akan Dibawa ke-Majelis Disiplin Profesi

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…

4 hari ago

Veda Ega Pratama Pembalap Indonesia Asal Gunungkidul Mengukir Sejarah Besar

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…

4 hari ago

Kekeringan di Gunungkidul, UPZ UP45 Salurkan Puluhan Ribu Liter Air Bersih di Ngawen

GUNUNGKIDUL— KAMIS PAHING, Di tengah persoalan kekeringan yang terus terjadi pada setiap tahun, kebutuhan air…

6 hari ago