WONOSARI-SENIN PAHING | Pembina dan pengembang karya puisi untuk Gunungkidul secara struktural terkotak kotak. Puisi berbahasa Jawa alias geguritan ditangani Kundha Kabudayan, sementara puisi berbahasa Indonesia ditangani OPD lain. Geguritan terkait dengan diresmikannya Taman Budaya Gunungkidul, mendapat porsi istimewa. Puisi, sepertinya kurang diperhatikan.
Sebagaimana diketahui, bentuk karya sastra secara umum hanya ada dua, prosa dan puisi. Prosa sebagai karangan bebas, puisi sebagai karangan terikat.
Di Kabupaten Gunungkidul sastrawan langka ditemukan, walau secara sporadis ada penulis novel dan cerita pendek.
Yang kerap dijumpai adalah karya puisi, bahkan buku kumpulan puisi sempat diterbitkan oleh penulisnya secara swadana. Penulis tersebut adalah seorang anggota DPRD Gunungkidul Arif Wibawa. Karyanya berjudul Sekedar Interupsi.
Meski kumpulan puisi memuat ratusan judul, belum pasti penulisnya bakal disebut penyair.
Penyair atau bukan penyair sesungguhnya itu urusan zaman, yang di dalamnya disangga oleh kritikus sastra dan pemerintah.
Gunungkidul tidak punya kritikus sastra yang setia mengawal perjalanan penulis puisi berbahasa Indonesia.
“Yang kami kembangkan, termasuk kami beri porsi pementasan di Taman Budaya Gunungkidul (TBG) adalah puisi berbahasa Jawa alias geguritan,” ujar Sekretaris Dinas Kebudayaan, Chaerul Agus Mantara, 27-12-2021.
Pernyataan sekretaris Dinas Kundha Kabudayan Gunungkidul dibenarkan oleh Kepala Bidang Sejarah, Bahasa dan Sastra Rudi Ismanto, A.MK. SE. MM. bahwa sebelum diresmikan Gubernur DIY, di TBG ditampilkan ribuan penulis puisi Jawa (geguritan).
Geguritan dan puisi berbeda pada media yang digunakan. Puisi menggunakan media bahasa Indonesia sementara geguritan menggunakan wahana bahasa Jawa.
Soal pembinaan oleh pemerintah, geguritan ditangani Kundha kebudayan sementara puisi ditangani Dinas pendidikan Pemuda dan Olahraga, juga KPAD.
Pemerintah, dalam hal ini OPD yang berkepentingan melakukan pembinaan penulisan puisi, terbelah secara hitam putih.
“Bahkan Dinas Pariwisata pernah menyelenggarakan lomba penulisan puisi bertema promosi pariwisata Gunungkidul,” ujar Rudi Ismanto.
Terkait TBG, dia tidak keberatan untuk keperluan pentas pembacaan puisi. Gedung itu dibangun untuk panggung bagi semua jenis seni.
Anggota DPRD DIY Iman Taufik dan Heri Nugroho Wakil Ketua DPRD Gunungkidul sepaham, bahwa seluruh pentas seni sentralnya ada di TBG. (Bambang Wahyu)
BANTUL - RABU PON, SEORANG pria berinisial AS (34) warga Panggang, Gunungkidul, ditangkap polisi usai…
GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…
GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…
YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…