WISATA

Pengendalian Pariwisata Bakal berubah

WONOSARI-SENIN PON | Jangan punya pikiran bangga karena laut masih berair, hutan masih rimbun dengan vegetasi. Berjualan wisata yang sekarang menjadi industri itu bukan suatu komitmen kepariwisataan yang selalu benar. Dalam pengendalian dinamika pariwisata, Negara saat ini mulai berubah pikiran.

Kerabat Keraton Jogja Raden Mas Kukuh Hestrianing menyatakan hal di atas saat diskusi internal dengan awak media, 20-11-2021.

Di samping pariwisata itu menjadi rejeki yang luar biasa, faktanya menurut Gusti Aning memantik banyak persoalan.

Dia menyebut contoh seperti: konflik antar pengelola destinasi, ribut-ribut antar pengunjung, harga jajanan yang kadang terlalu mahal sehingga jadi gunjingan pelancong, higienisnya kuliner, kemungkinan juga terjadi pungutan liar, joki jalan tikus karena jalan utama macet, fasilitas parkir tak memadai, kecemburuan kesejahteraan antar penikmat pariwisata karena ada yang dapat duit banyak ada yang tidak, dan yang lainnya.

Kali ini Gusti Aning mencermati bahwa karakter wisatawan di saat pandemi mempengaruhi perilaku berwisata, mirip kembali pada era 70-an membawa tikar, termos, rantang, lauk pauk dan telur asin.

Menurutnya, ini bukan semata-mata ingin hemat tapi juga keyakinan higienis dan tidak harus sering interaksi degan penjual.

“Sesuai dengan prosedur PPKM menghindari kontak dengan banyak orang itu tidak salah, bahkan dianjurkan,” demikian Gusti Aning menyinggung himbauan larangan pelancong bawa bekal dari rumah.

Dengan adanya pandemi bisa jadi masyarakat sudah mulai menyadari dan lebih menghargai hidup bahwa piknik itu mahal dan selektif dalam arti bebas pilih lokasi obwis, akomodasi, tempat kuliner, modal transportasi yang semuanya dianggap aman, sehingga perubahan tersebut lambat laun akan diikuti juga oleh pelaku usaha wisata.

Gusti Aning memperkaya wawasan, bahwa dinamika pariwisata di Indonesia masuk dalam Rencana Strategis Pariwisata.

Secara berjenjang sampai Prop dan Kabupaten dalam format Pergub/Perbup untuk langkah antisipatif protektif,” pungkasnya. (Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Pria asal Semanu Tewas Tertemper Kereta Api

SLEMAN - KAMIS LEGI, SEORANG pria tewas akibat tertemper kereta api di jalur KA KM…

11 jam ago

Polda DIY Larang Seluruh Personel Gunakan Vape

YOGYAKARTA – SELASA WAGE, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta melarang seluruh personelnya menggunakan rokok Elektrik atau…

3 hari ago

Truk Hino Terguling di Tikungan Bokong Semar, Sopir Luka Memar

BANTUL - SENIN PON, KECELAKAAN tunggal yang melibatkan sebuah truk Hino bernomor polisi H-8168-OH terjadi…

4 hari ago

Kapolresta Sleman Bantah Bagi-bagi Uang Rp50 Ribu dalam Bazar di Maguwoharjo

SLEMAN - SABTU LEGI, KAPOLRESTA Sleman, Polda DIY AKBP Dhimas Prasetyo membantah adanya informasi yang…

6 hari ago

Ribuan Mahasiswa UGM Wisuda Pascasarjana Tahun Akademik 2026/2027

YOGYAKARTA - SABTU LEGI, UNIVERSITAS Gadjah Mada (UGM) menggelar wisuda Program Pascasarjana Periode I Tahun…

6 hari ago

Kapolda DIY Imbau Masyarakat Tak Mudah Terprovokasi

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, Kepolisian Daerah (Polda) DI. Yogyakarta menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, tidak…

7 hari ago