BUDAYA

Seni Pertunjukan Tradisional (SPT) Di Gunungkidul Bakal Tergilas Seni Pertunjukan Modern (SPM)?

GUNUNGKIDUL-KLIWON | Dihimpun dari berbagai sumber seni pertunjukan (SP) dibagi dua. Pertama, SP Tradisional (SPT). Kedua SP Modern (SPM).

Di Kabupaten Gunungkidul berkembang aneka SPT seperti: Ketoprak, Wayang Kulit, Campur Sari, Ande-Ande Lumut, Tayub, Reog, Jathilan dan masih banyak yang lain.

Tahun 2023, muncul SPM berupa Peragaan Busana Batik berlokasi di pinggir pantai.

Fashion Show Beat diprakarsai Sunaryanta, Bupati Gunungkidul berbarengan dengan HUT GunungkIdul ke-192.

Muncul kekhawatiran, SPT tidak akan mampu menandingi kehadiran SPM

Alasannya, SPM didanai besar-besaran, sementara SPT, hampir pasti dibiarkan berjalan sendiri dengan dana yang pas-pasan.

Menurut Heri Nugroho, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, SPT maupun SPM perlu biaya.

“Selama ini, SPT mengandalkan dana dari kelompok yang bersangkutan, perorangan, atau pihak ke-3,” ujar Heri Nugroho, 18-6-2023.

Pemerintah, melalui Kundha Kabudayan juga mendanai SPT, tetapi tidak sebanyak yang dikucurkan ke SPM di pertengahan 2023, seperti yang dilaksanakan di Pantai Sepanjang.

SPM dalam bentuk fashion show adalah pertunjukan mode. Bukan SPT yang hidup di kalangan rakyat kebanyakan. SPM secara eksklusif hidup di kalangan masyarakat menengah ke atas.

Tidak aneh jika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Sandiaga Uno, ketika berkunjung ke Bumi Handayani 4-5-2023 menyanjung SPM Batik Show Beat.

Pemerhati SPT yang lain menyatakan,
jika investor diberi kewajiban corporate social responsibility (CSR) untuk membantu satu (1) grup SPT, niscaya seni dan budaya Gunungkidul maju pesat.

Sebab soal CSR payung hukumnya cukup jelas, Peraturan Pemerintah. Perusahaan ada kewajiban menyisihkan 2% keuntungan untuk kepentingan membantu masyarakat, termasuk menghidupi SPT.

Tetapi rupanya Pemerintah Gunungkidul tak serius. Banyak kepentingan terselubung dengan adanya CSR.

Jika pemerintah GunungkIdul serius membuat regulasi transparan, diyakini akan memberikan kontribusi maksimal di bidang seni budaya.

Pertanyaan sederhana, ujar tokoh yang tidak mau disebut jati dirinya, berapa CSR Widodo Makmur Unggas? Lebih jauh lagi, digunakan untuk apa saja?

“Kekhawatiran itu sebenarnya tidak berlebihan,”ujar Joko Priyatmo (Jepe).

Sebab kata dia, Bupati Sunaryanta dalam sambutan tertulis pada pagelaran Batik Show Beat menyatakan tahun 2024 akan menggelar pertunjukan yang sama dalam skala besar.

Di sisi lain dia meragukan, apakah 2024, Dinas Kebudayaan akan membiayai SPM seperti Show Beat lebih besar ketimbang tahun 2023.

“Belum tentu. Karena sumber biaya dari Danais akan dikritisi masyarakat. Sebab tahun 2024 adalah tahun politik.”

Tahun seperti itu, menurut Jepe, yang banyak ditanggap adalah SPT, bukan SPM.

“Yang paling laris adalah SPT jenis campursari,” kata dia.

(Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Polda DIY Raih Penghargaan 12 Satker Predikat Pelayanan Prima & Zona Integritas

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dua…

4 hari ago

Kakek 70 Tahun Gantung Diri di Pohon Jambu Mete

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Pagi buta,  M (76) seorang kakek warga Padukuhan Tonggor, Kalurahan Pacarejo,…

4 hari ago

Scoopy Tabrak Ambulan PMI, Satu Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - KAMIS LEGI, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan satu unit Mobil Ambulan…

4 hari ago

Mobil Brimob Polda DIY Terserempet KA Bandara

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, KABID Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan membenarkan adanya kendaraan dinas…

4 hari ago

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Peringkat Tertinggi PTKIN di Indonesia

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, UNIVERSITAS Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan…

4 hari ago

Ribuan Lulusan Pascasarjana UGM Jalani Proses Wisuda

YOGYAKARTA - KAMIS LEGI, Sebanyak 1.054 lulusan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode IV…

4 hari ago