PATUK, SABTU WAGE – Amarilis dahulu dinilai sebagai tumbuhan pengganggu. Enam tahun terakhir, sejak dibudidayakan Sukadi, warga Desa Salam, Kecamatan Patuk, bunga amarilis mulai menggoda dan dikagumi wisatawan.
Amarilis biasa berbunga setelah tiga minggu hujan pertama, musim basah tiba. Menjelang masuk musim penghujan seperti saat ini, beberapa tanaman amarilis di kebun depan rumah Sukadi mulai tumbuh.
Guna memperlancar akses pengunjung, Sukadi melakukan perbaikan jalan masuk kebun, agar wisatawan lebih nyaman dalam berkunjung.
“Sejak 2015 banyak wisatawan tertarik melihat amarilis,” kata Sukadi, Jumat, (1/9).
Di lahan 3.050 meter persegi, 500.000 amarilis tumbuh, September 2018 siap berbunga menghiasi kebun Sukadi.
“Tahun 2017, saat amarilis mekar, setiap akhir pekan atau hari libur, kunjungan mencapai 4.000 orang,” terangnya.
Masuk kebun, lanjut Sukadi, pengunjung ditarip Rp 5.000,00, untuk kepentingan perbaikan tempat.
Sukadi mengaku, tahun 2017 dalam waktu 12 hari terkumpul Rp 42 juta.
“Saya tidak menyangka kebun ini menarik banyak orang. Awalnya saya berkebun hanya untuk menyelamatkan amarilis,” ujarnya.
Kebun budidaya penyelamantan dan pengembangan amarilis, kini dikelilingi Bougenville. (Wp/ig)
BANTUL - RABU PON, SEORANG pria berinisial AS (34) warga Panggang, Gunungkidul, ditangkap polisi usai…
GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…
GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…
YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…