WONOSARI, Kamis Kliwon-Jumlah penderita HIV di Gunungkidul setiap tahun selalu bertambah. Data sejak tahun pertama 2006 ditemukan, penderita HIV di Gunungkidul sampai Desember 2017 berjumlah 301 pengidap.
Hal ini diungkapkan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, drg Dewi Anggraini, bahwa jumlah pasien yang terinfeksi penyakit HIV tahun 2015 ada 44 pasien, tahun 2016 terdapat 39, dan sampai akhir tahun 2017 ada 48 pasien.
“Kalau ditotal sejak ditemukan penyakit HIV di Gunungkidul tahun 2006 sampai akhir Desember 2017 ada 301 pasien penderita HIV,” ungkapnya.
Ia menyarankan bagi yang sudah terinfeksi HIV untuk mencegah supaya tidak menularkan keoada yang lain, selain itu harus selalu kontrol dan minum obat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, sambungnya, mempunyai kebijakan setiap penderita HIV harus dichek penyakit TBC nya.
Selain itu, ada beberapa orang yang diwajibkan untuk memeriksakan terkait masalah penyakit HIV ini.
“Diantaranya, Ibu hamil, pengguna nafza suntik (Penasun), penyakit infeksi menular seksual, waria, trangender, dan warga binaan,” ujarnya.
drg. Dewi Anggraini: Untuk pemeriksaan, menurutnya, bisa dilakukan di seluruh Puskesmas, RSUD Wonosari, dan 3 rumah sakit swasta di Gunungkidul.
“Seperti RS PKU Muhammadiyah, RS Panti Rahayu, Kelor, Karangmojo, dan RS Nur Rohmah, Gading, Playen,” pungkasnya.
Sementara itu Direktur RSUD Wonosari, dr. Heru Sulistyowati, Sp.A, mengatakan berdasarkan data klinik Voluntary Counselling and Testing (VCT) Klinik Empaty RSUD Wonosari tahun 2012 sampai 2017, jumlah pasien ter-diagnose HIV/AIDS sebanyak 194 orang.
“Jumlah tersebut terdiri dari yang rutin pengobatan 137 orang, gagal follow up 33 orang, pasien meninggal 27 orang, dan pasien rujuk keluar ada 9 orang,” ujarnya, Kamis, (01/03).
Dikatakannya, bahwa pasien yang gagal follow up, artinya yang tadinya sudah berobat terus menghilang tanpa keterangan, biasanya pasien ini akan infokan ke LSM pendamping untuk dilacak keberadaannya.
Ditambahkanya, bagi pasien yang infeksi penyerta menular biasanya dirawat diruang isolasi yaitu ruang Mawar.
“Tapi kalau yang tidak ada infeksi penyerta menular bisa diruang lain seperti diruangan Anggrek 1,” pungkasnya.
Reporter: W. Joko Narendro_ig
GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…