OPINI

SOLIDARITAS MENIPIS, GANTUNG DIRI MENINGKAT

oleh : Aprilya Dewi Kartika Sari, M.Psi

KETIKA kasus Covid-19 sedang melejit, soal gantung diri yang sudah ada sejak lama, karena akses kesehatan terbatas dan kebutuhan keseharian relatif sulit seperyinya mendorong meningkatnya pilihan mati gantung diri.

Kasus gantung diri makin hari makin naik, seiring kasus kematian yang diakibatkan oleh Covid-19.

Hal ini bisa jadi karena keterbatasan kemampuan sebagian warga untuk bisa kembali pulih atau resilien ketika menghadapi suatu masalah.

Atau bisa jadi role model yang ada cendrung menganggap gantung diri adalah solusi.

Hal sepele bisa menjadi sebuah alasan seseorang melakukan gantung diri. Bukan berat atau ringannya permasalahan, tetapi berapa lama hal itu berlangsung sementara itu, kemampuan resilien berkembang sejak usia anak sampai dewasa.

Bukan berarti bahwa pelaku kurang bersyukur, kurang bersabar, tetapi bisa jadi karena kurangnya pengetahuan ke mana harus mencari akses bantuan ketika sudah mentok, merasa tidak ada jalan lain.

Seberapa banyak dukungan sosial atau social support group yang mereka miliki, pada saat mereka merasa sendiri.

Mereka merasa lelah, merasa sudah tidak ada artinya untuk melanjutkan hidup.

Mereka merasa masa depan gelap. Mereka tidak tahu kemana akan berkeluh kesah.

Jika mereka tahu bahwa semua orang sedang mengalami kesusahan mereka pasti takut akan merepotkan.

Mereka berusaha baik baik saja, bahkan sebagian dari mereka tidak menunjukan tanda tanda akan melakukan gantung diri.

Mereka tampak baik, bahagia dan berusaha menyenangkan orang lain.

Ciri khas calon pelaku gantung diri adalah tiba tiba minta maaf, minta ijin akan pergi jauh, atau perubahan sikap yang sangat berbeda dari biasanya.

Kondisi ini adalah kondisi depresi yang kurang dipahami oleh kebanyakan orang.

Sebenarnya mereka membutuhkan bantuan dari orang terdekat, keluarga, dan tetangga.

Atau mereka perlu datang ke fasilitas kesehatan agar bisa mendapatkan terapi pengobatan yang tepat, tetapi mereka tidak tahu karena sedikit yang peduli.

Untuk itu perlu edukasi pada masyarakat bahwa warga yang cenderung depresi, patut memperoleh dukungan moral.

Pasalnya, sikap dan respon orang sekitar bisa menguatkan, sehingga angka gantung diri berkurang.

*) Penulis adalah psikolog tinggal di Bejiharjo, Gunungkidul

infogunungkidul

Recent Posts

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

1 minggu ago

JAPFA dan LPER Resmikan Kemitraan Strategis

GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…

1 minggu ago

UNS Wisuda 1.082 Mahasiswa Periode VII Tahun 2026

SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…

2 minggu ago

Unjuk Rasa di Yogya Berlangsung Aman

YOGYAKARTA - JUM'AT PAHING, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan, aksi demontrasi yang berlangsung pada siang hingga…

2 minggu ago

Pendidikan Khas Kejogjaan Masuk Kurikulum Perguruan Tinggi

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X secara…

3 minggu ago

Bantul Diguncang Gempa Magnitudo 3,6

BABTUL - KAMIS WAGE, KABUPATEN Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diguncang gempa bumi tektonik dengan…

3 minggu ago