Potensi yang ada diharapkan menjadi wahana efektif sebagai upaya pengentasan kemiskinan oleh masyarakat itu sendiri. Untuk selanjutnya Pemkab tinggal memfasilitasi dengan memudahkan akses membangun konektivitas antar obyek.
Sultan juga mencontohkan, dibukanya ruang publik Malioboro sebagai kawasan uji-coba semi-pedestrian setiap Selasa Wage, maka muncullah kreativitas masyarakat yang meningkatkan daya atraktif khas dan memberi nilai tambah Malioboro sebagai destinasi wisata budaya.
“Makanya, jika pemerintah dan masyarakatnya kurang kreatif, Gunungkidul akan seperti raksasa tertidur lelap yang tak akan mendapatkan apa-apa. Padahal pembangunan wilayah Timur YIA dengan daya tarik wisata geopark dan pantainya, wisatawan tidak hanya tertarik ke Borobudur. Yang harus kita bangun adalah regional image melihat Borobudur dari Yogya, bukan sebaliknya melihat Yogya dari Borobudur,” jelas Sri Sultan.
Sementara itu Bupati Gunungkidul Hj. Badingah, S. Sos menyampaikan, sebagai komitmen dalam pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan, telah dilaksanakan dengan segenap kemampuan yang ada.
Pariwisata sebagai substansi utama dalam visi pembangunan telah menunjukan prospek bagus dan memberi dampak sosial ekonomi yang nyata, mampu meningkatkan perkembangan UMKM.
GUNUNGKIDUL - JUM'AT LEGI, Ritual adat pembukaan Cupu Kyai Panjala di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar,…
YOGYAKARTA - SABTU KLIWON, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar serah terima jabatan Direktur Reserse Kriminal…
YOGYAKARTA - JUM'AT WAGE, PUCUK pimpinan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi berganti, setelah Kapolri…
BANTUL - KAMIS WAGE, POLISI mengungkap kasus dugaan penggelapan sejumlah barang milik sebuah toko grosir…
PENDIRI Ikatan Wartawan Online (IWO) akan menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) perdana pada tahun 2026. Dalam…
GUNUNGKIDUL - SABTU LEGI, Pemilihan Lurah (Pilur) serentak di Kabupaten Gunungkidul telah terlaksana, Sabtu (26/09/26).…