Potensi yang ada diharapkan menjadi wahana efektif sebagai upaya pengentasan kemiskinan oleh masyarakat itu sendiri. Untuk selanjutnya Pemkab tinggal memfasilitasi dengan memudahkan akses membangun konektivitas antar obyek.
Sultan juga mencontohkan, dibukanya ruang publik Malioboro sebagai kawasan uji-coba semi-pedestrian setiap Selasa Wage, maka muncullah kreativitas masyarakat yang meningkatkan daya atraktif khas dan memberi nilai tambah Malioboro sebagai destinasi wisata budaya.
“Makanya, jika pemerintah dan masyarakatnya kurang kreatif, Gunungkidul akan seperti raksasa tertidur lelap yang tak akan mendapatkan apa-apa. Padahal pembangunan wilayah Timur YIA dengan daya tarik wisata geopark dan pantainya, wisatawan tidak hanya tertarik ke Borobudur. Yang harus kita bangun adalah regional image melihat Borobudur dari Yogya, bukan sebaliknya melihat Yogya dari Borobudur,” jelas Sri Sultan.
Sementara itu Bupati Gunungkidul Hj. Badingah, S. Sos menyampaikan, sebagai komitmen dalam pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan, telah dilaksanakan dengan segenap kemampuan yang ada.
Pariwisata sebagai substansi utama dalam visi pembangunan telah menunjukan prospek bagus dan memberi dampak sosial ekonomi yang nyata, mampu meningkatkan perkembangan UMKM.
WONOSARI - SABTU PON, Sebuah tamparan keras institusi pemerintahan kembali terjadi. Kali ini RDS alias…
GUNUNGKIDUL – RABU KLIWON, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana…
GUNUNGKIDUL – SELASA PON, Seorang laki-laki berinisial S (64), warga Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, ditemukan…
PALIYAN - MINGGU PAHING, Pengemudi Toyota Inova diduga mengantuk mengakibatkan kecelakaan beruntun di Jalan Paliyan-Saptosari,…
YOGYAKARTA - SABTU LEGI, UNIT Studi Hukum Perdata (USHP) Fakultas Hukum Universitas Janabadra resmi meluncurkan…
GUNUNGKIDUL – SABTU LEGI, Menyongsong libur nasional dan perayaan Paskah 2026, Kepolisian Resor (Polres) Gunungkidul…