OPINI

SYARAT MENJADI PEMENANG PEMILU SERENTAK 2019

WONOSARI, Senin Pon – Pemilu serentak (Pileg dan Pilpres) 2019 ibarat perang brubuh. Pemenangnya adalah partai politik yang sanggup menembus dinding floating mass (masa mengambang). Parpol mau menang di Gunungkidul misalnya, perang brubuh itu tidak harus dilakukan di tingkat desa, tetapi di level Rukun Tetangga.

Presiden RI ke-2, Soeharto menerapkan kebijakan massa mengambang untuk mencegah membesarnya Partai Persatuan Pembangunan (PPP) serta Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Pengurus Parpol, kala itu, sangat dibatasi, hanya sampai di tingkat kecamatan.

Masyarakat desa  dibiarkan mengambang, secara struktural sulit digarap oleh parpol. Di masa kejayaan rezim Orde Baru, Golkar memiliki keleluasaan mennyentuh masa ngambang, karena desa dipimpin oleh kepala desa atau lurah, yang kebanyakan berasal dari TNI yang dikaryakan.

Selama 2 tahun setelah Soeharto ditetapkan menjadi Presiden RI ke-2, Pemilu kedua dilaksanakan 1971. Pada lima tahun awal pemerintahan Soeharto, siatuasi massa mengambang dilancarkan secara terstruktur, bersamaan dengan dikumandangkannya repelita (rencana pembangunan lima tahun) Di tangan Soeharto politik masa mengambang berjalan selama 25 tahun. Mulai  1977, 1982, 1987, 1992 hingga 1997.

Reformasi pecah di tahun 1998, Soeharto lengser, massa mengambang jebol namun belum tergarap secara optimal. Empat kali Pemilu, 1999, 2004, 2009, dan 2014, massa mengambang masih beku.

Sedikit Pemimpin Parpol yang mecoba menggarap massa mengambang. Baru pada Pemilu 2019 besok, geliat mengumpulkan kekuatan besar itu mulai muncul.

Parpol besar, sebut saja PDI Perjuangan misalnya, sadar betul akan hal itu. Partai Banteng Moncong Putih berpandangan, bahwa kekuatan pemilih ada di tingkat desa.

PDI Perjuangan benar, tetapi menurut kalkulasi kewilayahan bisa saja sebaliknya. Kekuatan massa/ pemilih riil tidak berada di Desa, melainkan di tingkat RT.

Peserta Pemilu 2019 diikuti oleh 14 parpol. Siapa pun yang terlebih dahulu membetuk kepengurusan partai di tigkat RT, dialah yang keluar sebagai pemenang.

Perang brubuh pada Pemilu 2019 hanya ada dua alat yang bisa digunakan, pertama uang, kedua kader militan yang diikat dalam struktur partai.  Bambang Wahyu Widayadi

infogunungkidul

Recent Posts

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

1 minggu ago

JAPFA dan LPER Resmikan Kemitraan Strategis

GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…

1 minggu ago

UNS Wisuda 1.082 Mahasiswa Periode VII Tahun 2026

SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…

2 minggu ago

Unjuk Rasa di Yogya Berlangsung Aman

YOGYAKARTA - JUM'AT PAHING, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan, aksi demontrasi yang berlangsung pada siang hingga…

2 minggu ago

Pendidikan Khas Kejogjaan Masuk Kurikulum Perguruan Tinggi

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X secara…

3 minggu ago

Bantul Diguncang Gempa Magnitudo 3,6

BABTUL - KAMIS WAGE, KABUPATEN Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diguncang gempa bumi tektonik dengan…

3 minggu ago