PERISTIWA

Tidak Banyak Diketahui Di Kapanewon Paliyan Tersimpan Buku Kuno Umur Ratusan Tahun

PALIYAN-RABU LEGI | Sutaya, warga Tahunan, Kalurahan Paliyan, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyimpan buku kuno berbahasa Jawa, ditulis dengan huruf Jawa. Umurnya ratusan tahun lebih. Masyarakat tidak banyak tahu, termasuk para pejabat pengabdi kebudayaan.

Pemangku Kepentingan pada Pemerintahan Bupati Sunaryanta gagap, ketika memperoleh kabar adanya buku setebal sepuluh senti meter tersimpan rapi di jantung kota Paliyan.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, 9 September 2019 silam tertarik pada buku tersebut, di tengah kirab budaya, tetapi tidak ditindaklanjuti.

Dirunut dari level bawah, Dasno, S.IP MM selaku Penewu Paliyan menanggapi adanya buku kuno itu tetapi sebatas menyatakan, akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak.

Ketua Dewan Kebudayaan CB Supriyanto sarannya sangat sederhana,” Kalau benar, lebih baik Dinas Kebudayaan diberitahu, karena memiliki Kepala Bidang yang khusus menangani hal seperti ini.”

Kepala Bidang Warisan Budaya, Kundha Kabudayan Gunungkidul, Agus Budi, S IP MM responnya pun sepertinya dingin-dingin saja.

“Terimakasih infonya nanti saya komunikasikan dengan tim terlebih dahulu. Tindak lanjut akan kami sampaikan, setelah bertemu dengan tim,” jawabnya, 16-11-2022.

Dikonfirmasi terpisah, Nunuk Setyowati selaku Kadinas Pendidikan memberi saran agar hal tersebut disampaikan juga kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gunungkidul. Dinas itu, menurutnya anaty sangat memiliki kepentingan.

“Berbeda dengan kami, tetapi kalau diminta membantu meterjemahkan, Dinas Pendidikan punya SDM lulusan Bahasa dan Sastra Jawa. Dia guru SMPN 1 Semanu, Pak Bambang Susilo Suharmanto, bisa dihubungi sewaktu-waktu,” ucap Kadinas Pendidikan.

Diperkirakan, buku yang tebalnya sebanding dengan karya Bung Karno ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ tersebut isinya belum diketahui. Kala bertemu dengan Immawan Wahyudi, Sutoyo mengatakan berisi sejumlah tembang macapat.

Jika pengakuan itu benar, patut diduga bahwa buku itu adalah babon Wulang Reh atau Serat Wedhatama dalam bentuk asli.

Disarankan, Pemerintahan Sunaryanta bergerak cepat, menterjemahkan manuskrip tersebut, kemudian menerbitkannya untuk keperluan pelestarian budaya.

(Bambang Wahyu)

infogunungkidul

Recent Posts

Viral Kasus Bolosego, Oknum Polisi Dipatsus

YOGYAKARTA - SELASA PAHING, Aipda S  seorang oknum anggota polisi Polsek Kraton menjalani pemeriksaan Propram…

9 jam ago

Hari Jadi Karangasem, Puluhan UMKM Gelar Bazar

GUNUNGKIDUL - KAMIS PAHING, Hari Jadi Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan yang ke-93 menggelar bazar UMKM,…

5 hari ago

Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON, GEMPA bumi dengan kekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah…

7 hari ago

Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga 2026 PT

PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…

1 minggu ago

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago

JAPFA dan LPER Resmikan Kemitraan Strategis

GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…

3 minggu ago