OPINI

Tradisi Rasulan, Sedekah Yang Kabur dan Tak Terarah

Sabtu Pon – Sebagai salah satu ekspresi hubungan vertikal-horisontal, tradisi rasulan umurnya hampir setua dengan  Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rasulan di era reformasi terbukti melenceng cukup jauh. Sebab itu tradisi rasulan perlu dikembalikan ke kitoh awal.

Inti upacara rasulan terletak pada kenduri atau selamatan. Esensi kenduri adalah sedekah dalam bentuk berbagi makanan kepada orang, atau keluarga kurang mampu.

Di awal kemerdekaan, atau setidaknya di tahun 50 hingga 60-an, warga Gunungkidul jarang yang mampu mengkonsumsi nasi, kecuali pejabat di pusat pemerintahan, seperti kabupaten, kawedanan dan kelurahan.

Wong tani paling banter makan tiwul, atau makanan berasal dari ubi-ubian. Belum tentu sebulan sekali Suto, Noyo, Dadap, Waru ketemu (makan) nasi putih. Dalam situasi seperti inilah kenduri rasulan pada masanya menjadi media penting untuk bersedekah.

Padukuhan A rasulan, warga padukuhan B diundang berkumpul ke rumah Dukuh hanya untuk keperluan makan-makan,  bersama warga setempat.

Usai kenduri, warga dari padukuhan B pulang dibawain nasi, komplit dengan lauk pauk. Ini kilas balik peristiwa tahun 1960-an, jaman orang sulit makan nasi.

Di era reformasi, sesulit apa pun warga Gunungkidul tergolong mudah dalam memperoleh nasi putih. Niat sedekah dalam kenduri rasulan kian kabur dan tak memiliki arah yang jelas.

Rasulan di era reformasi boleh dicermati. Warga berbondong-bondong membawa makanan ke balai padukuhan. Usai diikrarkan dan dibacakan doa, dimakan bareng-bareng.

Sisanya terlalu banyak tak sempat dipaket menjadi sedekah sebagaimana tahun 50 atau 60-an. Ini pertanda, bahwa masyarakat Gunungkidul tidak lagi kesulitan dalam urusan nasi (pangan).

Kenduri rasulan sebagai ekspresi hubungan vertikal antara makhluk dengan penguasa alam tidak perlu terlalu mewah.

Sisi lain, hubungan horisontal antara warga dengan warga patut dikembalikan ke kitoh awal, yakni sedekah dalam bentuk non makanan. Sebut misalnya pembenahan rumah tidak layak huni (RTLH).

Dalam prespektif demikian, tradisi dan atau budaya bisa menjadi salah satu motor penggerak pembangunan. Mengapa hal ini tidak dilakukan?

 

Penulis : Agung Sedayu

infogunungkidul

Recent Posts

Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Hingga 2026 PT

PT PERTAMINA Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026,…

2 hari ago

Tabrak Honda Beat, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di TKP

GUNUNGKIDUL - JUM'AT WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

1 minggu ago

JAPFA dan LPER Resmikan Kemitraan Strategis

GUNUNGKIDUL - KAMIS PON, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Koperasi Produsen Usaha Lembaga…

2 minggu ago

UNS Wisuda 1.082 Mahasiswa Periode VII Tahun 2026

SURAKARTA - MINGGU WAGE, UNIVERSITAS Sebelas Maret (UNS) Surakarta mewisuda sebanyak 1.082 mahasiswa di Auditorium…

2 minggu ago

Unjuk Rasa di Yogya Berlangsung Aman

YOGYAKARTA - JUM'AT PAHING, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan, aksi demontrasi yang berlangsung pada siang hingga…

2 minggu ago

Pendidikan Khas Kejogjaan Masuk Kurikulum Perguruan Tinggi

YOGYAKARTA - JUM'AT KLIWON, GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X secara…

3 minggu ago