Salah satu sesepuh setempat menjelaskan makna acara tradisi lempar nasi dan lauk memang dilihat sekilas menghambur-hamburkan makanan yang akhirnya hanya mubadzir.
“Tetapi tidak demikian dengan pemikiran sesepuh jaman dahulu, semua mengandung simbol atau filosofi dan mengandung nilai sosial,” ujar sesepuh yang tidak mau disebut namanya tersebut.
Setelah selesai didoakan, kemudian diperebutkan, disebar, saling serang, dan sebagainya, Sesepuh setempat menjelaskan filosofinya bahwa manusia hidup untuk meraih cita-cita mendapatkan rizki di dunia ini tidak hanya cukup berpangku tangan saja.
Manusia harus berusaha keras saling berebut rizki di muka bumi ini. Kalau sudah berusaha untuk merebut rizki, hasilnya diserahkan kepada Tuhan semata.
“Makanya pada saat berebut, setiap warga dapatnya berbeda-beda, ada yang mendapat ayam panggang, jadah, nasi, ataupun hanya mendapatkan kerupuk, itu tergantung rizkinya masing-masing, tetapi kalau hanya berpangku tangan, ya tidak akan mendapatkan apa-apa,” ungkapnya.
Itu dari segi nilai filosofinya, jika dinilai dari segi sosial, pemahaman nenek moyang jaman dulu lebih teliti dan mendalam.
Rizki yang sudah diperoleh manusia, tidak hanya untuk manusia saja, namun selain manusia, kehidupan yang lain supaya bisa menikmatinya juga.
GUNUNGKIDUL— KAMIS PAHING, Di tengah persoalan kekeringan yang terus terjadi pada setiap tahun, kebutuhan air…
GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON. Upacara adat tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala dilaksankan pada hari ini,…
GUNUNGKIDUL - MINGGU PON, Beberapa agenda kegiatan peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196 terlaksana dengan…
GUNUNGKIDUL - JUM'AT LEGI, Ritual adat pembukaan Cupu Kyai Panjala di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar,…
YOGYAKARTA - SABTU KLIWON, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar serah terima jabatan Direktur Reserse Kriminal…
YOGYAKARTA - JUM'AT WAGE, PUCUK pimpinan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi berganti, setelah Kapolri…