JAKARTA, SENIN PON-Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. menyatakan, gelombang tsunami yang terjadi di Selat Sunda, diduga karena adanya erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
“Tsunami Selat Sunda, berbeda dengan di Palu, yang sebelumnya didahului adanya gempa tektonik,” papar Dwikorita, yang disiarkan berbagai televisi swsata nasinonal (23/12).
Dihimpun dari berbagai sumber, aktifitas GAK dipantau secara intensif selama enam tahun terakhir.
Tanggal 26 Januari 2012, GAK ditetapkan dalam statuswas pada. Tanggal 2 September 2012, pukul 18.00 WIB, GAK erupsi material pijar, ketinggian 200-300 meter. Tipe erupsi strombolian.
Tanggal 18 Juni 2018, Gunung Anak Krakatau terdeteksi gempa vulkanik dan tektonik. Tanggal 20 Juni 2018, GAK terjadi 88 kali gemba hembusan, 11 kali gempa low prekuensi, dan 36 kali gempa vulkanik dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, GAK terdeteksi 49 gempa hembusan, 8 gempa low frekuensi, 50 kali gempa vulkanik dangkal, dan 4 kali gempa vulkanik dalam. Tanggal 22 Juni 2018, GAK dari kawah utama asap terlihat setinggi 100 – 200 meter. Tanggal 25 Juni 2018 pukul 07.14 WIB, GAK mengeluarkan abu vulkanik dan pasir. Kolom abu setinggi 1.000 meter, status waspda.
Tanggal 21 Desember 2018, GAK, pukul 13.16 WIB, erupsi, status waspada. Tanggal 22 Desember 2018 pukul 21.03 WIB, GAK erupsi, diduga sebagai penyebab terjadinya gelombang tsunami di Selat Sunda, (22/12). (Red)






