Berdagang Rempah-Rempah Lewat Laut Selatan Bertentangan Dengan Fakta Sejarah

1618

GUNUNGKIDUL-MINGGU KLIWON | Kundha Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul melaksanakan kegiatan bertajuk Lawatan (penelusuran) Sejarah Jalur Rempah, Sabtu 3-4-2021. Dinas Kebudayaan Gunungkidul berangkat dari asumsi bahwa rempah-rempah pada era penjajahan Belanda diangkut melalui Samudera Hindia, sementara faktanya para pedagang menyisir lewat pantai Utara.

“Akan kita cari sumber informasi pendukung yang menguatkan praduga soal jalur tersebut. Ini sedang dalam proses pengumpulan data,” kata Sigit, 2-4-2021.

Sumber dana kegiatan dalam sepanduk tertulis berasal dari Dana Keistimewaan tahun 2021, meski total rupiahnya tidak disebutkan.

Sigit menjelaskan bahwa penelusuran sejarah jalur rempah-rempah ini untuk merekonstruksi riwayat perdagangan yang dilakukan warga Gunungkidul pada jaman penjajahan Belanda.

“Dulu Desa Patuk Nglanggeran, Sambipitu dan Gading adalah penghasil mrica, cengkeh dan panili,” kata Sigit kepada media.

Bahkan menurutnya, di Padukuhan Kemuning, Desa Bunder ada jejak bekas kapal pengangkut rempah-rempah. Itu dia jadikan sebagai salah satu bukti petunjuk adanya jalur perdagangan rempah-rempah di Gunungkidul.

“Foto bekas kapal itu ada di masyarakat, ini saya sedang menunggu, mau segera dikirim,” imbuhnya.

Pernyataan Sigit itu sebuah asumsi atau memang benar-benar sejarah, hasil penelusuran itu akan dirilis ke media, Senin 5-4-2021 pekan depan.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan, Agus Agus Kamtono, menggaribawai bahwa lawatan itu sangat penting.

“Tujuannya untuk mencari informasi terkait perdagangan rempah rempah di Gunungkidul pada masa penjajahan Belanda,” tegasnya membenarkan ucapan Sigit.

Terlepas lawatan sejarah itu membuahkan hasil atau tidak, Mudi Lestari pegiat perempuan warga Kapanewon Patuk mengatakan bahwa program itu sangat tidak masuk akal.

“Mrica, panili juga cengkeh, apa lagi kayu putih, semua itu adalah tanaman baru. Di Gunungkidul pada zaman Belanda belum ada,” bantahnya.

Apa lagi, lanjut dia, disebut-sebut di Kemuning ada bekas kapal yang diduga digunakan untuk mengangkut barang. Kapal apaan? Kapal Api? Ucap dia ketus.

Terkait program yang digelar dengan dana yang besaran nominalnya disembunyikan itu, Mudi Lestari justru menantang DPRD terutama komisi yang membidangi untuk turun tangan.

“Panggil itu Kepala Dinas Kebudayaan. Berani gak,” tantang dia.

Mudi Lestari beralasan jalur perdagangan rempah-rempah itu adalah pantai Utara Laut Jawa,. bukan Pantai Selatan.

“Patut dicurigai Dinas Kebudayaan Gunungkidul hanya sebatas menghanguskan anggaran yang bersumber dari Danais. Harus dihentikan itu,” tegas dia. (Bambang Wahyu Widayadi)

https://www.youtube.com/watch?v=iDgxuCTCytM&t=2s




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.