KARANTINA wilayah yang dalam bahasa Inggris disebut lockdown, tidak akan menghentikan penularan Covid-19. Mau 15 hari 20 hari atau 30 hari, tetap akan sia-sia ketika kunci lockdown tidak dibuka.
Kunci lockdown itu adalah izin. Selama umat manusia tidak meminta izin kepada Sang Pemilik Covid-19, pandemi akan terus berjalan sesuai kehendakNya.
Manusia itu sesungguhnya tidak bisa berbuat apa-apa, berbeda dengan Pemilik Covid-19. Dia maha Kuasa yang sesungguhnya apa-apa bisa.
Kesadaran seperti di atas, selama ini tidak tumbuh di hati dan pikiran pemimpin kaliber dunia, termasuk para pemimpin nasional dan regional di Indonesia.
“Pada umumnya manusia tidak mau belajar kepada sejarah kehadirannya,” kata seorang warga biasa yang tidak memiliki kekuasaan apa pun, kecuali kekuasaan atas dirinya sendiri.
Nabi Isa alaihissalam karena izinNya, mampu menghidupkan orang yang telah berada di liang lahat.
Nabi putera Maryam itu juga bisa menciptakan seekor burung dari tanah karena perkenanNya.
Nabi Isa, yang di kalangan umat Nasrani dikenal dengan sebutan Yesus, sanggup menyembuhkan orang yang menderita penyakit kusta, bahkan dia kuasa menyembuhkan orang yang buta sejak lahir.
Tidak lain, semua itu adalah karena diberi kekuatan oleh Yang Maha Esa.
Juga Nabi Ayub yang menderita penyakit kulit selama tujuh tahun. Utusan Allah ini bisa sehat walafiat karena air yang ditunjukkanNya.
Manusia moderen yang mengklaim dirinya pintar, di abad teknologi sekarang ini menjadi kalang kabut mengahadapi virus corona, karena mereka menutup hati dan pikiran mereka dari petunjuk yang lurus.
Izin sebagai kunci rahasia dalam menghadapi Covid-19 itu mudah dan sangat sederhana bagi orang-orang yang mengerti, sebaliknya menjadi rumit bagi para penyembah materi.
Tidak pernah disadari bahwa manusia saat ini menyembah bangsa, bukan menyembah Pemilik Jagat. Manusia telah sesat, karena mereka menyangka Covid-19 itu bisa dibeli, atau diredakan dengan uang.
Allah tidak akan menghentikan Covid-19, meski jarum disuntikkan kepada 270 juta orang Indonesia.
Penyakit itu bersemayam di hati manusia. Allah menambah penyakit itu, sehingga manusia mendapat azab yang pedih, karena manusia banyak berdusta. (Bambang Wahyu)













