PADA umumnya, jarak tanam antar lubang yang biasa dilaksanakan para petani cabai adalah 50—60 cm. Untuk budidaya cabai rawit di teras rumah, soal jaraknya menyesuaikan tempat. Tata letak atau jarak setting antar polibag cabai rawit tidak mungkin sama persis dengan yang ditanam di lahan terbuka, paling tidak lebih rapat.
Yang pasti, bahwa setiap 1 hektar lahan terbuka standar minimal berisi 17.000 batang cabai rawit. Perhitungannya, jika setiap kelompok Petani Budap memiliki 17 ribu batang, itu berarti ekuivalen dengan 1 hektar pada teras rumah. Begitulah cara sederhana dalam menghitung luas tanam gerakan pertanian Budap di ruang terbatas.
Dengan pemeliharaan intensif, 17.000 batang di teras, hasilnya tidak akan kalah dengan yang di lahan terbuka, bisa panen 20 hingga 25 ton atau 2.500 kg.
Dalam situasi normal, harga cabai Rp 20.000,00 di tingkat petani. Itu artinya kelompok tani Budap irit pembelian bumbu dapur sebesar Rp 50.000.000,00.
Sebut saja satu kelompok Petani Budap terdiri dari 100 orang, rata-rata mereka menanam 170 polibag kemudian per batang produksinya 2 kg, maka setiap KK menikmati hasil 170 x 2 x Rp 20.000,00 = Rp 6.800.000,00.
Satu KK tidak mungkin mengkonsumsi sebanyak 340 kg dari hasil budidaya Pertanian Budap. Sebagian bisa dijual, atau diberikan kepada KK yang belum bergabung dalam budidaya Pertanian Budap. Esensi menolong pihak lain muncul di sini, termasuk menolong negara untuk mengurangi impor cabai.
Di tanah air, sebenarnya banyak dilakukan demplot Pertanian Budap dalam polibag. Sebut misal yang dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat.
Sayangnya di propinsi tersebut belum merupakan gerakan yang berkelanjutan. Sifatnya masih temporer, hanya ketika terjadi lonjakan harga cabai. Itu sebabnya progam tahun 2017 diberi nama Gertam alias Gerakan Tanam untuk meredam harga cabai yang menggila bulan Juni kala itu. Pelaku yang disasar ibu-ibu PKK dan media yang dipilih tetap lahan terbuka di pekarangan rumah.
Di Kabupaten Gunungkidul sangat berbeda. Sasarannya seluruh KK dan sifatnya berkelanjutan. Harga cabai normal tetap melakukan gerakan penanaman, untuk antisipasi harga melambung.
Menyitir istilah yang sering dipakai oleh Presiden Soekarno, budi daya Pertanian Budap mirip dengan massa aksi. Tidak ada yang mampu menghalangi gelombang rakyat jika mereka telah menggeledek, mengguntur bagaikan petir, kata Bung Karno di dalam Buku Di Bawah Bendera Revolusi
Pertanian Budap seiring dengan konsep Kalurahan Membangun. Ini turunan dari gagasan Bupati Gunungkidul Sunaryanta yakni Gunungkidul Membangun.
(Bersambung, Bambang Wahyu Widayadi)













