Oleh Slamet, S.Pd. MM
Munculnya pro kontra terhadap rencana tata kota yang digagas oleh Bupati Sunaryanto, mungkin tak diprediksikan sebelumnya, dan mungkin bupati juga tak menduganya.
Hal itu muncul akibat pemahaman publik yang beragam yang bersumber dari media online dan media sosial yang beredar, karena stressingnya ada di bundaran Siyono dengan mengubah patung pengendang menjadi patung tobong gamping, tidak ruas jalan secara keseluruhan.
Akibatnya masarakat juga fokus terhadap isu patung bukan revitalisasi jalan protokol kota wonosari yang sudah terlihat kumuh untuk segera dipercantik.
Saya sebenarnya sangat mendukung untuk segera ada revitalisasi jalan protokol kota wonosari, untuk segera dipercantik, terlebih di sepanjang jalan bunderan siono sampai depan Polres Gunungkidul.
Penataan depan kantor bupati, jalan lingkar pasar Argosari, penataan parkir sekitar pasar agar terlihat bersih dan rapi serta terang benderang di malam hari.
Rencana baik itu mestinya ditangkap oleh humas pemda Gunungkidul untuk disosialisasikan melalui media sosial yang dimiliki, seperti facebook atupun youtobe.
Humas di era digital diharuskan lebih kreatif dan inovatif dalam mempublikasikan suatu informasi.
Humas merupakan komunikator pemda yang menciptakan keberlangsungan pemerintahan dan memiliki peran penting dalam membangun serta menumbuhkan kembali image atau reputasi yang buruk akibat persepsi buruk tentang patung tobong gamping.
Humas sangat penting dalam membangun reputasi, karena reputasi dapat membentuk opini, jika dibiarkan bisa mengancam reputasi dan kredibilitas bupati.
Komunikasi merupakan hal penting dilakukan bagi Humas, karena merupakan salah satu pandangan publik yang akan menilai dan membentuk persepsi terhadap pemerintahan.
Maka dari itu, media sosial bisa menjadi salah satu strategi bagi Humas untuk berkomunikasi dengan publik di tengah era digital. Media sosial menjadi wadah aspirasi publik untuk memberikan kritik dan saran terhadap pemerintahan.
Komunikasi dua arah merupakan hal yang penting dilakukan. Apalagi di era digital, informasi terus berkembang tanpa ada batasan. Sehingga, banyak versi informasi yang berbeda dengan pemerintahan
Humas segera menyampaikan pesan yang cepat kepada publik, konsisten, dan terbuka kepada publik.
Selain itu, langkah lain yang harus dilakukan Humas adalah memberikan publikasi yang informatif agar publik tidak menerima informasi lain dari media yang akan memperkeruh situasi dan membangun relasi dengan publik untuk menghadapi krisis di era digital.
Upaya yang dilakukan tentunya didukung dengan hadirnya media sosial yang terus berkembang. Media sosial merupakan sarana diseminasi informasi dan media interaksi yang digunakan oleh Humas untuk berhubungan dengan publik.
Dengan demikian, Humas dapat mengontrol perkembangan isu dan mengantisipasi hal-hal yang berdampak negatif bagi pemerintahan dan media sosial dapat digunakan sebagai media interaksi untuk berhubungan dengan publik.













