BUKA BERSAMA DIBUBARKAN MALAIKAT

1301

PUASA di bulan Ramadhan substasinya adalah MENAHAN, bukan MELAMPIASKAN melalui prosesi dari SAHUR hingga BERBUKA.

Umat Islam itu kreatif, lalu merekayasa kegiatan menjelang bedug Magrib dengan tajuk BUKA BERSAMA.

Itu salah? Tentu saja tidak, meski ada pula yang sangat kaprah dalam arti tidak lazim, karena dalam menunggu waktu berbuka puasa diisi acara diskusi sampai ada agenda membuka aib sesama muslim.

Padahal berpuasa itu holistik, totalitas. Artinya, piranti atau elemen tubuh semua dalam posisi menahan diri.

Sekarang ada model menunggu waktu berbuka dengan gerakan pelampiasan pikiran yang tidak jelas ujung dan manfaatnya.

Banyak perintah untuk menjalankan puasa yang termuat dalam Al-Qur’an. Setidaknya dijumpai 12 perintah dalam tujuh surat. Yang terbanyak ada pada Al-Baqarah. Di sana terdapat lima ayat tetapi yang berkaitan dengan bulan Ramadhan hanya empat ayat.

Pertama:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah Ayat 183).

Kedua
“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(Al-Baqarah Ayat 184).

Ketiga:
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(Al-Baqarah Ayat 185)

Keempat:
“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”
(Al-Baqarah Ayat 187).

Tidak lama lagi akan digelar buka bersama yang isinya bukan sebatas silaturahmi tetapi silat lidah yang tidak bermanfaat untuk meningkatkan keimanan umat.

Semoga penyelenggara buka bersama itu memperoleh petunjuk dan tidak sampai dibubarkan oleh para Malaikat. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.