PEMIMPIN UMAT PATUT MENGUASAI BAHASA ULAR DAN KODOK

1615

KEKHALIFAHAN seseorang tidak cukup hanya diukur dengan parameter dekat sama rakyat. Jika hanya sebatas itu, potensi berkianat amat besar.

Ada yang lebih hakiki bahwa pemimpin harus bisa momong seperti yang diteladankan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Salah satu Wali Songo ini fasih menguasai bahasa ular dan bahasa kodok.

Mantan Brandal Loka Jaya ini mirip Nabi Sulaiman, dia mampu berdialog dengan hewan.

Dalam Almenak Waspada terbitan 1954 dituturkan, Kanjeng Sunan Kalijaga menyaksikan peristiwa alam yang sangat tragis dramatis.

Ular sawah nguntal kodok tetapi belum sepenuhnya tertelan, masih di ujung mulut. Sang kodok berteriak kuat-kuat isyarat SOS.

“Hu, Hu,” demikian Kanjeng Sunan berbicara kepada ular dan kodok yang secara kodrati semua orang tahu.

Teguran salam Kanjeng Sunan Kalijaga mengakibatkan ular kaget, mulutnya kendor, dan si kodok melompat, lepas dari lubang maut.

Tidak paham bahasa Wali, ularpun bertanya tentang isyarat Hu Hu yang barusan diucapkan Kanjeng Sunan Kalijaga.

Walullah menjawab dengan tersenyum,” Itu artinya Huntalen (telanlah segera) jangan disiksa.”

Mendengar keterangan Sang Wali ular sawah pun kembali ke semak sembari menggerutu, karena tidak tanggap terhada perintah Kanjeng Sunan Kalijaga.

Sebaliknya kodok pun bertanya sebagaimana ular sawah. Dengan senyum ramah Kanjeng Sunan Kalijaga memaparkan bahwa Hu Hu itu maknanya Huculna (lepaskanlah).

Dengan rendah hati si kodok mengucap terimakasih, sebab sudah diselamatkan.

Kekhalifahan Kanjeng Sunan Kalijaga jelas, bahwa beliau harus membuat lega kepada semua pihak. Rakyat Indonesia merindukan pemimpin seperti itu.

Rama Aning, kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun buka suara, bahwa sesungguhnya di negeri ini banyak orang bijak, tetapi tidak diberi ruang oleh rakyat maupun oleh parpol.

Pimpinan pusat maupun daerah sebenarnya bisa belajar dari model politik para Wiku (leluhur). Intinya memadukan intelektual dan spiritual, seperti halnya kedinastian Mataram.

Ini merupakan refleksi dari kewahyuan dan kewalian, mulai dari dinasti Senopati, Dinasti Hanyokrowati, Dinasti Sultan Agung, Amangkurat, Paku Buwana.

Perjanjian Giyanti atau Palihan Negari, menjadi Catur Sagotra : Paku Buanan, Mangkunegaran, Paku Alaman dan Hanengku Buwanan adalah sejarah leluhur yang dinafikan.

“Padahal itulah yang memberi nilai kekhususan seperti Jawa Nusantara sebagai Tanah Perjanjian Keilahiyaan, untuk terus ada guna keseimbangan kosmologi kehidupan dunia,” ulas RM Kukuh Hestriyasning di Dalem Benawan 26-4-2022. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.