WONOSARI-SELASA PAHING | Hanya terjadi di Kabupaten Gunungkidul bahwa Pileg 2019 parpol dengan modal 2 kursi melesat menjadi 9, walau Slamet Riyanto dan Anton Supriyadi keluar dar gedung DPRD Gunungkidul karena alasan tak cukup suara, dan mengundurkan diri karena nyalon bupati dari jalur independen.
Sembilan anggota DPRD Gunungkidul dari NasDem, semua pendatang baru, kecuali Suharno, SE yang pentholan PDIP. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya kolusi dan kolaborasi antar tokoh politik dengan tokoh non politik.
Kata kunci ada pada pernyataan Ketua DPD NasDem Suparjo, SIP yang sebenarnya sangat mudah dibaca.
Di berbagai kesempatan Suparjo bilang, “NasDem adalah parpol terbuka yang selalu well come siapa saja bisa dan boleh bergabung.”
Pernyataan tersebut bukan murni gagasan Ketua DPD NasDem, tetapi hasil proses kolusi dan kolaborasi lintas tokoh di Gunungkidul.
Slamet, S.Pd. MM, yang tahun 2019 masih di Partai Golkar sebenarnya mulai mencium gelagat, bahwa NasDem menggunakan strategi Kapal Keruk.
“Artinya begini, mBah Parjo dan jajarannya secara kolusif kolaboratif full menguasai teritorial 144 desa, sehingga NasDem Gunungkidul me Raup di lima daerah pemilihan,” ujarnya, di Rumah Limas Slamet Harjan, 26-4-2022.
Sementara parpol seperti PDIP, Golkar, PAN, PKS, Gerindra dan Demokrat rupanya terlena sekaligus lengah tidak membaca gerakan NasDem yang dimotori mantan Lurah Desa Hargomulyo dibayang-bayangi Subardi yang maju DPR RI.
Subardi, menurut banyak pengamat serupa dengan Begawan Politik yang menangkap peluang empuk di Gunungkidul dari sejumlah tokoh non politik yang ingin ikut merasakan kue, meski tidak maju menjadi caleg.
Pemilu serentak Rabu Pon 14 Februari 2024, tokoh non politik itu masih akan berperan?
Ketika jawabannya positif, maka NasDem adalah ancaman besar bagi parpol lama, terlebih peserta pemilu serentak jumlahnya kemungkinan bertambah.
“Dimungkinkan NasDem meniti Jalur Tol,” kata pemerhati politik. (Bambang Wahyu)













