HARI Raya Idul Fitri 2022 tetap berlangsung dua hari, pada Senin 2 Mei dan Selasa 3 Mei.
Itu perbedaan yang manusiawi, tidak harus ditafsirkan benar salah, karena manusia sejatinya dikaruniai sejumlah kelemahan dan kekurangan.
Dihitung mundur dari 25 April 2022, Hari Raya Idul Fitri kurang seminggu. Seorang teman mengingatkan kepada pemilik perusahaan bahwa jadwal batas pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) semakin mepet.
Kebiasaan menggelontorkan THR baik itu oleh swasta maupun negara (Pemerintah) karena peraturan perundangan, secara umum masih diarep-arep masyarakat Indonesia.
Mengapa Idul Fitri hampir menjadi identik dengan KULINER besar dalam sehari? Ini merupakan absurditas tersendiri yang perlu dipahami dengan sabar dan ikhlas.
Pinjam alur pikiran Cak Nun, di kalangan warga hanya ada satu pilihan: dina riaya Idul Fitri apike mangan apa.
Tidak ada alternatif pertanyaan bahwa Idul Fitri sing apik mangan apa lan apike mangan sepira.
Di dalam merayakan Idul Fitri ada keprihatinan meski tidak menyedihkan amat. Yang terjadi adalah manusia melampiaskan makan macam-macam, bukan mengendalikan, sebagai mana saat menjalan ibadah puasa selama sebulan penuh.
Saya melihat ada satu kelaziman yang menyebabkan orang lupa esensi. Tetapi tidak masalah karena hal tersebut termasuk sangat menyenangkan meski dalam konteks sangat menggelikan.
Mawas diri di sela peradaban jungkir balik terjadi pada Idul Fitri yang dimaknai KEMBALI SUCI.
Pertanyaan mendasar: apakah setelah berpuasa sebulan penuh, setiap manusia kembali fitri (suci), sebagaimana roh sebelum menyatu dengan raga?
Tidak, sama sekali tidak. Yang bisa begitu hanya Nabi Agung Muhammad SAW utusan pilihan Allah SWT.
Kok begitu? Sekarang pikir coba, bahwa merayakan Idul Fitri saja manusia cenderung ke arah melampiaskan makanan, baju baru, sepatu baru, kendaraan baru dan yang lain, bukan mengendalikan.
Sajian serimonial hari raya itu saja asal muasalnya orang tidak tahu apakah itu halal apa haram.
Sebut misalnya opor daging ayam. Asalnya itu bangkai apa disembelih atas nama Allah SWT, orang sulit mendeteksi yang penting masuk perut kan?
Makanan yang dibeli dengan uang THR itu halal, tetapi untuk membeli daging yang menurut agama dilarang, mau puasa seumur hidup pun tetap belepot dosa.
Tetapi Allah maha pemberi maaf. Umat yang milyaran tidak lulus berpuasa tetap diampuni. Tidak fitri-fitri banget bagi Allah tidak masalah. Yang penting tidak melupakan-NYA.
Menyongsong Idul Fitri 2022 dan selanjutnya yang diingat seharusnya Allah SWT, bukan THR. Mari mengharap ampunan-NYA, kemudian bertakbir setelah usai puasa sebulan.
Menyantap makanan enak pada Idul Fitri itu tidak ada larangan. Nabi besar Muhammad SAW memberi teladan berhenti makan sebelum kenyang. Artinya ini upaya pengendalian bukan pelampiasan.
Para petani dapat THR dari mana? Mereka anteng-anteng saja. (Bambang Wahyu)






