Anggota Dewan Menengarai, Politisi Takut Dengan Kentongan

1217

NGLIPAR, KAMIS WAGE – Gangguan keamanan di era 60-an adalah banyaknya maling, menggerayangi dusun dan desa. Di tahun 2000-an gangguan maling di malam hari hampir jarang terjadi. Sementara itu, gangguan keamanan tambah bervariasi seperti, nenggak miras, mengkonsumsi pil koplo, dan bagi-bagi uang menjelang Pemilu 17 April 2019.

Ronda malam dengan menabuh kentongan jarang, bahkan tidak lagi dilakukan. Nabuh kentongan digeser ke rumah, sehingga menjadi tidak relevan dengan siskamling.

“Apa pengaruh thok-theek, thek-thek, atau thoklik yang ramai berkembang saat ini,” tanya nggota DPRD DIY, Slamet S.Pd. MM, (6/9).

Sekedar untuk lucu-lucuan, lanjut Slamet, atau untuk melahirkan kesenian baru, supaya ada kesan telah tercipta rasa aman?

Menurut Slamet, thoklik menjadi relevan ketika dihubungkan dengan Pemilu Serentak 17 April mendatang.

“Ratusan, bahkan ribuan politisi bakal sungkan melakukan (gangguan, dalam bentuk serangan fajar), ketika 16 April 2017, warga 1.431 padukuhan di Gunungkidul kompak siskamling dengan menabuh kenthongan keliling dusun,” ujar Slamet.

Terlebih, lanjut Slamet, ketika rombongan thoklik didampingi Babin Kamtibmas (Polisi) dan Babinsa (Tentara).

“Ini PR KPU dan Bawaslu untuk menagkal politik transaksional. Mereka bisa bekerjasama dengan 144 Kades, serta 1.431 Dukuh,” pungkasnya. (Bewe/ig)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.