PDRB Pertanian Anjlok, Sekdin Kominfo Bilang Petani Tanpa Lahan Perlu Diadvokasi : Bagian Keempat Dari Lima Tulisan

880

GUNUNGKIDUL-KAMIS PAHING | Kabupaten Gunungkidul seluas 46% lebih dari luas DIY. Penduduknya 43,17% atau 110.969 adalah keluarga tani, bakan ada Kepala Keluarga yang tidak memiliki lahan garapan sama sekali. Mereka kemudian memilih menjadi buruh tani.

Tahun 2021 semester satu Dinas Dukcapil Gunungkidul menyajikan data 110.969 KK petani / buruh tani. Sayangnya terhadap jumlah tersebut Dukcapil tidak merinci dan memilah, berapa petani yang punya lahan, dan berapa buruh tani yang tidak punya lahan.

Buruh tani yang secara individual dan kesadaran pribadi melakukan budidaya pertanian di teras rumah karena tidak punya lokasi selain itu, faktanya cenderung terlupakan, atau dilupakan. Artinya, mereka tidak diperhatikan Pemerintah.

Sekdin Kominfo Gunungkidul Aris Suryanto dalam kapasitas pribadi, mengangkat permasalahan buruh tani tipe serupa itu. Dia berpendapat, bahwa buruh tani sangat penting untuk diperhitungkan.

Pada semester satu tahun 2021, total KK Kabupaten Gunungkidul 257.061. Diperkirakan yang bergerak melakukan cocok tanam di lahan sempit (teras rumah) tidak hanya KK petani dan buruh tani. Dimungkinkan KK yang berprofesi Wiraswasta, Buruh Harian Lepas, Karyawan Swasta, PNS, Pensiunan, Mengurus Rumah Tangga, Perangkat Desa, Tidak Bekerja, serta Kerja Lain-lain juga melakukannya.

Aris Suryanto memaklumi para pegiat pertanian teras rumah tidak termonitor dengan baik dan tidak terdata oleh Dinas Pertanian Pangan.

“Ke depan, saya akan lakukan advokasi. Saya akan sampaikan kepada teman-teman di OPD yang berkepentingan, termasuk kepada BPS, karena boleh jadi produk tanaman teras rumah tidak dihitung,” ujar Aris Suryanto, 13-10-2022.

Asumsinya, terang Aris Suryanto, kalau tanaman teras rumah diperhitungkan sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB mustahil turun.

Bercocok tanam di teras rumah menggunakan media terbatas (polibag) kenyataannya banyak dilakukan warga.

Di Ngasem Ayu, Desa Salam, Kapanewon Patuk perintisnya adalah Ngadija. Dia seorang Jagabaya setempat. Bambang Setiawan Budi Santosa, Lurah Kepek, Kapanewon Wonosari bahkan menggerakkan warganya untuk menekuni budidaya tanaman sayur di teritis rumah.

Kalau terpaksanya tidak terkaver oleh Dinas Pertanian, menurut Aris Suryanto, Bupati Gunungkidul tinggal tulis perintah agar 144 Lurah menggerakkan KK binaan untuk melakukan itu.

Solusi lain untuk menaikkan hasil pertanian Gunungkidul Aris Suryanto berpandangan, ijin pengalihan lahan pertanian ke industri dan yang lain, harus diperketat, karena semakin banyak lahan pertanian yang dialihfungsikan maka produksi hasil pertanian semakin berkurang.

Tetapi dia melihat dalam review Perda RT RW malah ada usulan tambahan lahan kawasan industri, tidak tanggung-tanggung, seluas 370 Ha.

(Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.