WONOSARI, JUMAT WAGE – Pola komunikasi politik pejabat antar kubu pasangan Presiden dan Wakil Presiden tidak nyaman ditonton. Pejabat bidang ekonomi, di tengah persiapan kampanye Pemilu Serentak 17 April 2019, saling tuding dan saling serang dikeploki.
Megawati Sukarno Putri mengolok-olok lawan politik yang menantang Jokowi Maruf Amin berdebat menggunakan bahasa Ingris.
Memang kalau sudah pinter menggunakan bahasa Inggris itu berarti hebat, cetus Mega, di depan sejumlah kader PDIP, (20/09).
Ketika komonikasi politik diseret ke layar kaca (Tv) dalam bentuk debat kelompok yang cenderung saling bantah, tambah gak enak lagi.
Juga ketika masing-masing kubu berebut simpati kalangan muslim. Umat, layaknya dagangan politik, dijadikan rebutan. Ulama ditarik-tarik, Pondok Pesantren dibujuk-bujuk. Tidak sampai terjadi perpecahan memang, tetapi terbangun pengelompokan.
Di tengah hiruk pikuk komunikasi politik yang nyaris membuat banyak orang menjadi skeptis, muncul perdebatan soal beras.
Kepala Bulog Budi Waseso (Buwas), bilang import beras tidak diperlukan, Menteri Perdagangan Enggar bicara sebakiknya. Klimaknya, Buwas mengumpat keras
Pelajar bicara jorok, dibilang tidak tahu sopan, dan tidak berkarakter. Pejabat ngomong “matamu”, malah diaplous (ditepuk-tangani). Bambang Wahyu Widayadi






