Kakek Hasyim Mati di Pangkuan Cucu, Pada Tongkang Bermesin Tempel

1277

PATUK, MINGGU PAHING – Film dokumenter, menceriterakan pejuang bernama Hasyim yang hidup di perbatasan Indonesia-Malaysia. Tahun 1963, Bung Karno menyatakan perang Dwikora (Dwi Komando Rakyat) karena Malaysia melanggar Perjanjian Manila 1963. Film berdurasi 120 menit diputar Sabtu malam (8/9), di depan ratusan siswa SMP Negeri 2 Patuk.

“Ini bagian dari pendidikan karaker”, kata Kepala Sekolah, Drs. Darno Legowo, dalam sabutan singkat, sebelum film bertajuk “Tanah Surga, Katanya,” mulai diputar.

Kakek Hasyim adalah pejuang tangguh melawan tentara Gurka (tentara bayaran India dan Nepal) yang disewa Kerajaan Inggris, saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.

“Saya tetap tinggal di sini (di Indonesia: red), tidak mau ke Malaysia,” ujar Kakek Hasyim, ketika dibujuk anaknya untuk berpindah dan berdagang di Malaysia.

Bersama Salman, cucu lelakinya, Kakek Hasyim bertahan di pedalaman Kalimantan Utara, meski penyakit sesak nafas (asma) dirasakan tidak kunjung membaik.

Dalam film tersebut digambarkan betapa jomplangnya taraf hidup masyarkat Malaysia dan Indonesia perbatasan. Ekonomi, pendidikan dan kesehatan tidak seimbang. Masyarakat daerah perbatasan benar-benar ketinggalan.

Ketika salah satu pejabat (diperankan Dedy Miswar, turun ke tapal batas, Salman cucu Hasyim sang pejuang membaca puisi sindiran berjudul Kolam Susu.

Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu, katanya.

Kata kakek saya, yang bisa minum susu hanya pejabat yang ada di kota, demikian Salman mengawali deklamasinya.

Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu, katanya.

Kata kakek saya, para pejabat menyukai udang di balik batu.

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tananaman, katanya.

Kata kakek saya, lanjut Slaman, para pejabat itulah yang suka makan batu dan kayu.

Sindiran panas meluncur dari mulut cucu seorang pejuang tulen. Akhir film ini, Hasyim menghembuskan nafas terakhir saat dibawa ke rumah sakit dengan perahu tongkang.

Sebelum meninggal di malam hari, dalam perahu bermesin tempel, Hasyim berpesan, “Salman, simpan Indonesia di hatimu. La illa haillaloh”.

Mata Hasyim pun terkatup. Kepalanya bersandar di pelukan dan pangkuan Salman. (Bewe/ig)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.