GUNUNGKIDUL-SENIN PAHING, Kisah pilu dialami Maryono (54) warga Padukuhan NitikanTimur, Kalurahan Semanu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, berniat membenahi kondisi ekonomi keluarga dengan cara meminjam uang di bank untuk membeli seekor sapi dengan harapan ternak tersebut dapat berkembang, namun impian seorang petani desa tersebut tiba-tiba kandas, setelah sapi seharga Rp 15.000.000 (lima belas juta rupiah) mati pasca mendapat vaksin PMK.
Kepada infogunungkidul, Maryono menjelaskan, peristiwa memilukan ini terjadi pada beberapa tahun lalu. Sebelumnya, Maryono dan warga lainya mendapat pemberitahuan dari dinas terkait melalui pemerintah kalurahan, yang mewajibkan ternak peliharaan mereka harus divaksin guna mengantisipasi penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang mewabah saat itu.
Tanpa terkecuali sapi milik Maryono, dengan berat ia mengikuti anjuran pemerintah tanpa bisa menolak vaksin. Saat dilakukan vaksin, dikisahkan Maryono, sapi betina yang telah ia pelihara selama kurang lebih 6 bulan tersebut dalam kondisi bunting 3 bulan.
“Kepada petugas saya sudah menyampaikan bahwa sapi saya bunting 3 bulan. Saya dijelaskan oleh petugas bahwa bila ada apa-apa dengan sapi saya akan mendapat ganti rugi dari pemerintah,” kenang Maryono mengisahkan, Jumat (13/03/2026) siang di kantor redaksi infogunungkidul.
Untung tak dapat diraih, malang pun tak dapat ditolak, tiga hari pasca vaksin, ternak sapi milik Maryono mulai mengalami gejala aneh, tidak seperti biasanya, terus menerus mulut sapi miliknya mengeluarkan liur, nafsu makan hilang, dan kondisi sapi dari hari ke hari makin mengenaskan.
“Satu minggu kemudian ternak saya mati,” ungkap Maryono sembari sesekali menyeka air mata yang berlinang tanpa sadar.
Dengan suara berat dan terbata, Maryono melanjutkan kisahnya, kejadian tersebut, kata Maryono, sudah dilaporkan ke Pemerintah Kalurahan Semanu, bahkan Lurah Semanu, Harto Muadzan bersama petugas Puskeswan juga telah berkunjung ke rumahnya untuk menggali data dan melihat langsung kondisi lingkungan kandang.
“Tiga tahun berlalu apa yang dijanjikan pemerintah dan petugas Puskeswan melalui Pak Lurah Harto tidak ada kejelasan. Saya sudah empat kali datang ke kantor kalurahan selalu dijawab dana belum turun dari atas. Seperti ini, kemana lagi saya harus mengadukan nasib saya ini,” ungkap Maryono dengan nada berat menahan kesedihan.
Hingga saat ini, Maryono masih terus berjuang untuk mendapatkan perhatian pemerintah, di tengah kondisi yang serba sulit, bapak paruh baya ini tidak menyerah begitu saja, tetap menyuarakan kesedihannya meski ia merasa selalu di ping pong sana sini oleh petugas maupun pejabat berwenang dengan janji tanpa realisasi.
“Bagi saya orang kecil, uang 15 (lima belas) juta sangat banyak, terlebih saya bisa membeli ternak sapi hasil utang bank. Saya berharap kepada Pak Lurah, kepada Bu Martini, dan Pak Sigit Petugas Puskeswan yang pernah datang ke rumah saya dan menjanjikan memperjuangkan hak saya mohon kami ini dibantu solusinya,” pinta Maryono.
Diketahui, hingga berita ini ditayangkan, Lurah Semanu Drs. Harto Muadzan, M.Si., berikut Carik Semanu, Suhartanto, S.H., belum dapat dikonfirmasi.
Penulis: Agus SW
Editor: HRD
Ikuti infogunungkidul di Facebook, Instagram, dan WA Channel: https://whatsapp.com/channel/002






