Kabupaten Maros Lumbung Pangan, Kawula Muda Tak Minat Bertani

1166

JAKARTA, SABTU PON – Sektor pertanian, di Kabupaten Maros, Propinsi Sulawesi Selatan tidak lagi diminati kawula muda. Sementara sejarah menunjukkan, sejak pemerintahan Soeharto, Maros menjadi lumbung pangan.

  1. Muhammad Nur, seorang putra daerah Maros, Kolonel TNI aktif meminta pemerintah kabupaten Maros mendorong anak muda agar tertarik menggeluti sektor pertanian.

Saat ditemui awak media di Jakarta, Rabu (8/8), dia mengatakan, Maros dengan luas w1.619,12 km² merupakan lahan pertanian cukup subur. Maros terkenal sebagai lumbung padi. Logo kabupaten Maros adalah wilayah pertanian.

Untuk itu, ia meminta pemerintah dan pihak terkait untuk terus memotivasi generasi muda bekerja di sektor pertanian.

  1. Muhmmad Nur menceritakan, generasi muda lebih memilih merantau dan bekerja di kota lain ketimbang memajukan pertanian di kampung.

“Selain itu terllihat bahwa pembangunan infrastruktur lebih mengedepankan Maros sebagai kota jasa ketimbang kota pertanian”, ujar H.M. Nur.

Dia ingin melihat Maros maju di sektor pertanian, dengan membangun tata kelola agraria yang konsisten.

Nur mendambakan perekonomian petani membaik, tidak dirugikan, khususnya pada saat panen raya, yang biasanya harga komoditas pertanian anjlok.

“Paling tidak, Kabupaten Maros bisa menjadi penyangga kebutuhan pangan bagi Kota Makasar, kota-kota besar di Indonesia. Syukur bisa ekspor” terangya.

Ketika terjadi keberhasilan sektor pertanian, menurut Nur, generasi muda akan melihat, bahwa hidup sebagai petani memiliki prospek cerah,

H.M. Nur menyatakan, pembangunan Bendungan Paselloreng di Kabupaten Wajo, Bendungan Karalloe di Kabupaten Gowa, dan Bendungan Pamukkulu di Kabupaten Takalar, merupakan tolok ukur bahwa Sulawesi Selatan telah dicanangkan sebagai sentra pangan nasional. (red)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.