Akankah Gono-Gini IPG Dihargai?

296

WONOSARI, Rabu Pahing – Ikatan Perupa Gunung Kidul (IPG), kembali menggelar pameran seni rupa bertajuk Gono Gini : Memahami Arti Keadilan, Menggugah Kesadaran. Pameran dibuka pada Sabtu malam (22/7), rencananya akan berlangsung selama satu minggu hingga 29 Juli 2017. Bertempat di eks Gedung Pengadilan Agama Wonosari, acara ini dibuka oleh performanceart dan musikalisasi puisi, dihadiri  Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi.

IPG adalah komunitas seniman Gunungkidul yang berdiri sejak beberapa tahun lalu. Sayangnya, hingga saat ini komunitas tersebut belum memiliki ruang pameran sendiri. Karena hal inilah, IPG selalu menggelar pameran di lokasi yang berbeda-beda. Mulai dari pameran di jalanan Kota Wonosari, Perpustakaan, Bangsal Sewoko Projo, eks Gedung Dinas Pariwisata Gunungkidull.

Beberapa perhelatan besar yang pernah dilangsungkan diantaranya Pameran Sehari: Dimana Rumahku?; Lur Nglilir; Adoh Ratu, Cedak Watu; Geger-Geger, Goro-Goro; Ngurug Telo, juga berbagai pameran bersama di berbagai tempat, bekerjasama dengan seniman-seniman kondang seperti Nasirun, Lucia Hartini, serta para seniman dari berbagai daerah lainnya.

“Gono Gini : Memahami Arti Keadilan, Menggugah Kesadaran” menjadi tema yang digagas pada pameran kali ini. Herlan Susanto dan Nanang menjelaskan, bahwa dalam masyarakat Jawa, Konflik atas harta sering disebut dengan harta gono gini. Konflik ini bersifat intern dan harusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Namun jika meluas dan konfilk disebarluaskan secara berkepanjangan bisa menjadi aib,” sumber: gunungkidul.sorot.co, kabarhandayani.com

Seperti kita ketahui akhir-akhir ini Gunungkidul bisa dikatakan sarat konflik. Tak perlu disebutkan satu-persatu, berbagai gesekan-gesekan itu kemudian akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan dan perpecahan.

Terlepas dari pesan  yang ingin disampaikan para seniman Gunungkidul ini, ada alasan kuat yang melatar belakangi event besar ini. Yang saya tangkap (sebagai masyarakat awan yang tidak memiliki latar belakang seni sama sekali), ada kemarahan, kritik, sindiran, cinta, dan tentunya juga harapan dari para seniman terhadap negeri batu, Gunungkidul tercinta.

Semua dituangkan dalam karya-karya mereka menjadi sebuah pesan tersirat. Akankah pesan ini tersampaikan seperti harapan mereka dan diapresiasi? Entahlah.

 

Penulis: Devi Erhma




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.