OPINI

Akankah Gono-Gini IPG Dihargai?

WONOSARI, Rabu Pahing – Ikatan Perupa Gunung Kidul (IPG), kembali menggelar pameran seni rupa bertajuk Gono Gini : Memahami Arti Keadilan, Menggugah Kesadaran. Pameran dibuka pada Sabtu malam (22/7), rencananya akan berlangsung selama satu minggu hingga 29 Juli 2017. Bertempat di eks Gedung Pengadilan Agama Wonosari, acara ini dibuka oleh performanceart dan musikalisasi puisi, dihadiri  Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi.

IPG adalah komunitas seniman Gunungkidul yang berdiri sejak beberapa tahun lalu. Sayangnya, hingga saat ini komunitas tersebut belum memiliki ruang pameran sendiri. Karena hal inilah, IPG selalu menggelar pameran di lokasi yang berbeda-beda. Mulai dari pameran di jalanan Kota Wonosari, Perpustakaan, Bangsal Sewoko Projo, eks Gedung Dinas Pariwisata Gunungkidull.

Beberapa perhelatan besar yang pernah dilangsungkan diantaranya Pameran Sehari: Dimana Rumahku?; Lur Nglilir; Adoh Ratu, Cedak Watu; Geger-Geger, Goro-Goro; Ngurug Telo, juga berbagai pameran bersama di berbagai tempat, bekerjasama dengan seniman-seniman kondang seperti Nasirun, Lucia Hartini, serta para seniman dari berbagai daerah lainnya.

“Gono Gini : Memahami Arti Keadilan, Menggugah Kesadaran” menjadi tema yang digagas pada pameran kali ini. Herlan Susanto dan Nanang menjelaskan, bahwa dalam masyarakat Jawa, Konflik atas harta sering disebut dengan harta gono gini. Konflik ini bersifat intern dan harusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Namun jika meluas dan konfilk disebarluaskan secara berkepanjangan bisa menjadi aib,” sumber: gunungkidul.sorot.co, kabarhandayani.com

Seperti kita ketahui akhir-akhir ini Gunungkidul bisa dikatakan sarat konflik. Tak perlu disebutkan satu-persatu, berbagai gesekan-gesekan itu kemudian akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan dan perpecahan.

Terlepas dari pesan  yang ingin disampaikan para seniman Gunungkidul ini, ada alasan kuat yang melatar belakangi event besar ini. Yang saya tangkap (sebagai masyarakat awan yang tidak memiliki latar belakang seni sama sekali), ada kemarahan, kritik, sindiran, cinta, dan tentunya juga harapan dari para seniman terhadap negeri batu, Gunungkidul tercinta.

Semua dituangkan dalam karya-karya mereka menjadi sebuah pesan tersirat. Akankah pesan ini tersampaikan seperti harapan mereka dan diapresiasi? Entahlah.

 

Penulis: Devi Erhma

infogunungkidul

Recent Posts

Prof Sony Warsono Resmi jadi Guru Besar UGM

YOGYAKARTA - JUMAT LEGI, PROFESOR Sony Warsono, MAFIS, Ph.D.,CA, Ak resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar…

1 hari ago

Rektor UGM Buka Rangkaian PIONIR, Sambut 11.099 Mahasiswa Baru

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 11.099 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus…

5 hari ago

Momentum HUT RI ke-81, SD Muhammadiyah Mulusan II Unjuk Kemajuan

GUNUNGKIDUL-SENIN PAHING, SD Muhammadiyah Mulusan II Padukuhan Mahbang, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, menggelar kegiatan jalan…

5 hari ago

Seorang Kakek asal Gunungkidul Tewas Tertemper Kereta Api

SLEMAN-SENIN PAHING, SEORANG kakek berinisial N (73) warga Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul,  DIY tewas…

5 hari ago

Ratusan Kakak Asuh Maba UPN Veteran Yogya Jalani Pelatihan Bela Negara di AAU

YOGYAKARTA - SENIN PAHING, Sebanyak 210 mahasiswa UPN “Veteran” Yogyakarta yang terpilih sebagai kakak asuh…

5 hari ago

Kekeringan Akibat Kemarau Panjang di Gunungkidul Menjadi Perhatian Banyak Pihak

RONGKOP - KAMIS PON, Musim kemarau panjang tahun ini membawa tantangan ganda bagi Kabupaten Gunungkidul.…

1 minggu ago