WONOSARI-SENIN LEGI | Seratus empat puluh empat (144) desa, bahkan pada 1.431 dusun di Kabupaten Gunungkidul, setahun sekali setelah panen padi dan palawija pasti melakukan upacara Rasul (Rasulan).
Istilah Rasulan tidak ada kaitannya dengan Utusan dalam bahasa Arab, tetapi lebih dekat dengan kebudayaan Hindu Dharma, karena inti Rasulan adalah pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai lambang kesuburan.
Mengutip pendapat Gösta Liebert, seperti dilansir Kompas, bahwa kata Sri berasal dari bahasa sansekerta, yang salah satu maknanya adalah kesuburan / keberuntungan.
Tokoh Dewi Sri tidak hanya dikenal di pulau Jawa tetapi juga di pulau Bali. Dewi Sri, yang dianggap sebagai Dewi Keberuntungan dalam pewayangan dijumpai pada Lakon Sri Boyong.
Lakon tersebut selaras dengan Upacara Wiwit (awal mula) panen padi. Ketika memasuki musim kemarau, setelah segala macam panen selesai petani melakukan upacara Rasulan.
Belakangan pemujaan kepada Dewi Sri diberi makna sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini untuk menghindari anggapan sitik sebagaimana sering diungkapkan oleh kaum muslimin.
Rasulan, oleh sebab itu menjadi budaya yang semula sebagian orang memperolok-olok, kini semua menerimanya secara egaliter.
(Bambang Wahyu)
GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…