Categories: KESEHATAN

Awal Tahun 2019 Warga Gunungkidul Meninggal 1 Orang Akibat Leptospirosis

WONOSARI, MINGGU KLIWON-Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mencatat pada awal tahun 2019 telah dilaporkan terdapat tiga kasus leptospirosis. Dari tiga kasus yang ada, satu korban dinyatakan meninggal dunia oleh pihak medis karena terlambat mendapatkan perawatan.

Sekretaris Dinkes Gunungkidul, Priyanta Madya menyampaikan, untuk mengantisipasi risiko tertular penyakit leptospirosis masyarakat dihimbau agar ke ladang setelah matahari terbit.

Menurutnya, virus yang terkandung dalam kencing tikus penyebab leptospirosis akan mati dengan sendirinya setelah terkena sinar matahari.

Dia menambahkan, hal tersebut harus dibina kesadarannya dari masyarakat itu sendiri, karena kultur warga Gunungkidul adalah petani pekerja keras dan rajin sehingga mayoritas mulai berladang di saat matahari belum terbit.

“Dari lintas sektoral, semua terlibat dalam penanganan dan pencegahan. Ada tim yang menangani kasus semacam ini, jika ada laporan langsung ditindak lanjuti,” ungkap Priyanta, Jumat, (18/01).

Sementara itu, Fungsional Entomolog Kesehatan Bidang Penyakit Tidak Menular Dinkes Gunungkidul, Eko Mujiarto mengatakan, periode Januari hingga Maret 2019, menjadi bulan paling rawan penularan penyakit mematikan leptosporosis.

“Kajian dan pendataan pada Januari sampai Maret, bahkan April adalah masa kritis terkait penularan leptospirosis. Curah hujan tinggi dan aktifitas pertanian padat, tentu perlu langkah antisipasi ketat,” ungkapnya.

Dia juga memaparkan, pada tahun 2017 terdapat 64 kasus dan beberapa diantaranya korban meninggal dunia. Tahun 2018 dapat ditekan menjadi 16 kasus dan tercatat satu penderita meninggal dunia. Sedangkan, pada awal 2019 ini, telah dilaporkan terdapat tiga kasus leptospirosis.

“Satu korban ada di Kecamatan Ponjong dan dua lainnya di Gedangsari. Tetapi, mereka tertular virus leptospirosis tidak di wilayahnya tetapi di Yogyakarta dan Klaten,” jelas Eko.

Dia mengatakan, daerah yang tergolong cukup rawan terhadap penularan penyakit ini berada di zona Utara yaitu Gedangsari, Ngawen, Patuk, Nglipar, dan Semin. Hal tersebut dikarenakan area pertanian cukup luas dibandingkan di kecamatan lainnya. (Ag/ig)

infogunungkidul

Recent Posts

Smart Batik Indonesia Kembangkan Ekosistem Batik Sawit di Yogyakarta

YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…

10 jam ago

Dugaan Malpraktik RSUD Wonosari akan Dibawa ke-Majelis Disiplin Profesi

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…

1 hari ago

Veda Ega Pratama Pembalap Indonesia Asal Gunungkidul Mengukir Sejarah Besar

GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…

1 hari ago

Kekeringan di Gunungkidul, UPZ UP45 Salurkan Puluhan Ribu Liter Air Bersih di Ngawen

GUNUNGKIDUL— KAMIS PAHING, Di tengah persoalan kekeringan yang terus terjadi pada setiap tahun, kebutuhan air…

3 hari ago

Puluhan Gambar Muncul, Berikut Hasil Lengkap Bukaan Cupu Kyai Panjala

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON. Upacara adat tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala dilaksankan pada hari ini,…

6 hari ago

Hari Jadi ke-196, Bupati – Wakil Bupati Gunungkidul Kian Memanas

GUNUNGKIDUL - MINGGU PON, Beberapa agenda kegiatan peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196 terlaksana dengan…

7 hari ago