Oleh : Ummafidz
Dalam kehidupan ini, kita sering menyaksikan kisah orang-orang yang difitnah, ditindas, disingkirkan. Bukan karena kesalahan, tetapi karena keberaniannya berkata benar di tengah kebohongan. Orang-orang seperti ini biasanya memilih diam. Bukan karena lemah, tapi karena tahu bahwa bicara di tengah telinga yang sudah tertutup hanya akan menambah luka.
Namun, diam yang terlalu lama terhadap kezaliman bisa menjelma menjadi bentuk baru dari kejahatan. Karena dengan diam, kita membiarkan kebatilan berjalan tanpa lawan. Dan membiarkan kebatilan berarti menghina kebenaran yang telah dititipkan Allah kepada hati setiap hamba.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka…” (QS. Hud: 113)
Ayat ini tidak hanya melarang kita menjadi pelaku kezaliman, tapi juga melarang kita bersikap netral di hadapan kezaliman. Bahkan kecenderungan saja , simpati, diam, atau membiarkan, sudah cukup membuat kita bersalah.
Diam adalah bagian dari adab. Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Jika engkau ingin selamat dari lidah manusia, maka diamlah.” Namun, beliau juga menekankan: “Jika diam itu menyebabkan hilangnya hak orang lain, maka berbicaralah walaupun pahit.”
Ada saatnya diam adalah bijak, tapi ada pula saat di mana diam justru menyuburkan kezaliman. Dalam sejarah Islam, para nabi dan ulama tidak pernah diam saat kebenaran diinjak.
Nabi Ibrahim membantah kaumnya yang menyembah berhala. Nabi Musa menantang Firaun. Nabi Muhammad ﷺ berdiri tegak menolak tradisi jahiliah, meski harus diasingkan, disakiti, bahkan diancam dibunuh.
Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang bangkit menegakkan keadilan: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah…” (QS. Al-Ahzab: 23)
Menuntut keadilan adalah bentuk pemenuhan janji kepada Allah, bahwa kita akan berdiri di pihak yang benar, meskipun pahit dan berat.
Ada seseorang yang disakiti bertahun-tahun lamanya. Ia difitnah. Dilecehkan. Namanya dicoret dari ruang-ruang percakapan. Ia tidak melawan. Ia tidak membalas. Ia hanya diam dan bersabar. Tapi dunia tidak serta-merta menjadi adil. Malah semakin banyak yang ikut menyudutkannya.
Hingga akhirnya ia bangkit. Ia menuju ruang pengadilan, bukan dengan amarah, tapi dengan harapan. Ia menuntut kebenaran, bukan dendam. Namun yang ia terima malah tudingan. “Tega sekali,” kata mereka. Padahal selama ini, mereka tak pernah bertanya : bagaimana rasanya menjadi dirinya?
Ini persis seperti yang digambarkan Buya Hamka: “Jangan takut menyuarakan kebenaran walau suaramu gemetar. Sebab diam atas kebatilan adalah tanda iman yang lemah.”
Bangkit menuntut kebenaran bukanlah bentuk durhaka. Tapi itulah jalan yang ditempuh para nabi. Bahkan Rasulullah ﷺ, saat dizalimi di Thaif hingga berdarah-darah, beliau tidak diam dalam ketakutan. Beliau memaafkan, namun tetap memperjuangkan Islam agar tak lagi diinjak-injak.
Kadang kita diajari untuk memaafkan, dan itu baik. Namun, memaafkan tanpa memperbaiki sistem yang rusak justru membiarkan orang lain menjadi korban selanjutnya.
Itulah sebabnya dalam Islam, islah (perbaikan) menjadi prinsip penting. Allah berfirman: “Tidak ada kebaikan dalam banyak bisikan mereka, kecuali orang yang menyuruh (manusia) untuk bersedekah, berbuat baik, atau mengadakan perdamaian di antara manusia…” (QS. An-Nisa: 114)
Maka jangan sampai kita menganggap mereka yang menuntut keadilan sebagai perusak. Bisa jadi, merekalah yang menyelamatkan kita dari kezaliman yang sudah mengakar.
Kita diajari kalimat ini: “Al-haq ghariib : kebenaran itu asing.”
Dan benar, kebenaran kadang datang sendirian. Tapi ia tidak butuh mayoritas. Ia hanya butuh keberanian. Jika hari ini ada seseorang yang dicaci karena memperjuangkan haknya, janganlah kita ikut mencaci. Sebab mungkin ia sedang berjalan di jalan yang dahulu dilalui para nabi.
Dan jika hari ini kita sendiri yang dizalimi, jangan takut untuk bangkit. Jangan takut disebut pemberontak. Karena diam terhadap kezaliman bukanlah sabar, tapi pembiaran. Dan pembiaran adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah SWT.













