PATUK, Jumat Legi – Bunga amarilis mekar setahun sekali, umurnya tidak lebih dari seminggu. Gencarnya promosi di sosmed, amarilis sempat bikin heboh. Camat Patuk tergoda, amarilis dijadikan motif batik. Ketika batik amarilis gagasan Camat terealisasi, siapa sesungguhnya yang menangguk untung. Penguasa, pengusaha, atau rakyat?
“Yang pasti, masyarakat Patuk hanya menjadi penonton. Tidak ada segelintir warga pun yang memperoleh manfaat ekonomi,” demikian komentar Bambang Krisnadi, anggota DPRD DIY, (4/8/).
Menurut politisi PDIP yang tak segan bersuara lantang ini, menautkan bunga amarilis ke dalam kain batik merupakan gagasan dangkal, tidak cerdas, eksklusif, pejabat ingin cari perhatian.
“Berkali-kali saya kritik, Patuk itu adalah gerbang utama masuk ke Gunungkidul. Masyarakat memperoleh apa? Hanya debu alias bleduk kendaraan yang hilir mudik,” ulasnya pedas.
Belakangan dipamerkan batik amarilis. Menurut Bambang Kris, yang mendulang duit adalah pengusaha, dengan catatan jika batik tersebut laku.
Dia menggambarkan, berbeda dengan misalnya warga Patuk digerakkan membuat batik tulis. Ini peluang usaha yang membuat perekonomian merangkak.
Bambang Krisnadi meragukan upaya yang ditempuh Camat Patuk R. Haryo Ambar Suwardi tentang batik printing motif amarilis yang dipamerkan di medsos beberapa saat lalu. Agung Sedayu
BANTUL - RABU PON, SEORANG pria berinisial AS (34) warga Panggang, Gunungkidul, ditangkap polisi usai…
GUNUNGKIDUL-RABU PON, Terkait dugaan penahanan atau penundaan pemberian salinan rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah…
GUNUNGKIDUL - SELASA PAHING, Salah satu putra terbaik Gunungkidul, sekaligus tokoh politik senior, Drs. HM.…
YOGYAKARTA - MINGGU KLIWON, PT AGRINAS Palma Nusantara (Persero) menjalin kerja sama dengan CV Smart…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Dugaan kasus malpraktik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, yang menimpa…
GUNUNGKIDUL - SABTU WAGE, Veda Ega Pratama berhasil mencetak sejarah besar bagi dunia balap motor…