Categories: OPINI

BELUM MAMPU MENINGGALKAN DEMOKRASI MINYAK DAN AIR

WONOSARI, SENIN PON– Pemilu Tahun 2019 adalah pemilu terpanas sepajang sejarah NKRI. Ini sebuah peringatan keras, bawa bangsa Indonesia tidak boleh meninggalkan demokrasi pertemanan, demokrasi berpasangan, demokrasi suami istri.

Gerakan massa pada Pemilu 2019 begitu menggumpal, berbeda dengan pemilu sebelumnya. Dalam meraih dukungan, peran partai politik sepenuhnya diamainkan oleh kader parpol yang berkeinginan merebut kursi legeslator melalui pileg.

Sebagai instrumen demokrasi, partai politik pun terbelah menjadi dua, sebagian mengelompokan pada ‘partai minyak’ sebagian yang lain berkumpul di ‘partai air’. Kelompok pertama mendukung calon presiden A, kelompok kedua mendeklarasaikan calon presiden B.

Mereka saling berhadapan, nyaris sulit untuk dipertemukan. Komunikasi kedua kelompok besar itu kembali ke potensi anak-anak, susah menerima kebenaran, sulit mencerna nasehat.

Ini satu ironi besar. Sementara yang hendak mereka capai itu hanya satu, yakni Indonesia sebagaimana diamanatkan sila kelima. Terminal terakhir sama, sementara dalam menuju ke arah itu prosenya dilalui dengan cara-cara tidak bersahabat, sekaligus tidak bermartabat

Presiden Soeharto, saat berkuasa pernah menyatakan, di Indonesia tidak dikenal istilah oposisi. Ini sebuah isyarat, bahwa dalam nengelola negara demokrasi, secara substantif tidak perlu diwarnai dengan rasa permusuhan.

Pikiran Soeharto, seirama dengan realitas, bawa alam beserta isinya diciptakan dalam porsi berpasangan, satu melengkapi yang lain, tidak saling nengingkari, tidak saling memusuhi.

Contoh sederhana, perempuan hadir untuk menyempurnakan tugas laki-laki. Regenerasi berproses karena perempuan dan laki-laki menjalani perintah pertemanan.

Untuk memperbaiki kualitas demokrasi, bangsa Indonesia harus kembali ke jalan yang ditunjukkan oleh demokrasi semesta, perempuan dan laki-laki, kemudian meninggalkan demokrasi minyak dan air.

Inilah demokrasi asli bangsa Indonesia yang tersurat dan tersirat di dalam Pancasila. Untuk sampai ke arah itu, para pemimpin harus memiliki ketaatan, kejujuran dan keberanian. Hingga detik ini tiga tanda itu belum ada.

(Bambang Wahyu Widayadi)

infogunungkidul

Recent Posts

Kecelakaan Beruntun, Seorang Pemotor Meninggal Dunia

GUNUNGKIDUL – SELASA KLIWON, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan satu unit mobil dan dua sepeda…

1 minggu ago

Melintas di Bokong Semar, Truk Tronton Terguling

BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…

2 minggu ago

28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…

3 minggu ago

“Adu Banteng” Vario Vs Supra dua Korban Dilarikan ke-RS

GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…

3 minggu ago

Gorok Leher Sendiri, Pria Asal Gunungkidul Ditemukan Tewas

SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…

4 minggu ago

Waspada! Diduga Ulah Maling, 3 Warga Nglipar Kehilangan Emas dan Uang Tunai

GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…

4 minggu ago