WISATA

Beragam Makanan Tradisional Dapat Ditemukan di Pasar Argowijil

WONOSARI – Rabu Pahing | Ingin berburu kuliner khas tempo dulu, di Pasar Ekologis Argowijil, Desa Gari, Kecamatan Wonosari tempatnya. Pasar wisata kuliner yang ramai di setiap Minggu pagi ini, menyuguhkan ragam makanan khas pasar tradisional seperti nasi jagung, botok manding, gatot, tiwul, gethuk, gudeg dan sejumlah makanan tradisional lainnya.

Pasar yang dibangun di atas tanah bekas pertambangan batu kapur ini, tergolong mudah aksesnya. Dari kota Wonosari ke arah Kecamatan Nglipar, tiba di perempatan Padukuhan Karangtengah belok ke arah Desa Gading. Disanalah nanti sudah ada papan petunjuk untuk menuju pasar.

 

DDN DIGADANG MENJADI PERSINGGAHAN TURIS

 

Ketua Pedagang Pasar Ekologis Argowijil, Tolip menjelaskan, tempat dibangunnya Pasar Ekologis Argowijil dahulunya merupakan sebuah pegunungan atau bukit tinggi, masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Wijil. Dahulu Gunung Wijil sempat ditambang oleh masyarakat sekitar, untuk bahan material bangunan.

Seiring berjalannya waktu, penambangan menjadi aktivitas masyarakat sebagai mata pencaharian. Sehingga batuan kapur tersebut lambat laun semakin menipis dan habis dan menjadi daratan yang landai.

“Penambangan mulai dihentikan oleh Pemerintah Desa, sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kerusakan lingkungan yang lebih parah,” jelasnya, Minggu, (15/12/2019).

Akhirnya, lanjut Tolip, Gunung Wijil mendapatkan rekomendasi program pemulihan lahan kritis, oleh Kantor Penanggulangan Dampak Lingkungan (KAPEDAL) atau saat ini disebut Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul.

Rekomendasi tersebut diajukan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk dilakukannya program reklamasi atau pemulihan lahan kritis. Reklamasi yang dilakukan berupa pengurukan dengan tanah berupa lubang cekungan bekas aktivitas penambangan yang ada di tempat tersebut agar menjadi rata.

“Selanjutnya dalam pemanfaatannya dibangunlah Pasar Ekologis. Kedepannya pasar akan dikelola untuk kesejahteraan masyarakat  sekitar,” jelasnya.

Tolip menjelaskan, Pasar Argowijil ini terdiri dari dua Los, yakni Los Pule dan Los Joho, filosofi dari nama Los tersebut adalah Pule itu Pusating Lelaku, kemudian Joho itu adalah Joyoning Kahono. Artinya ketika pasar ini menjadi pusat untuk perekonomian masyarakat, kemudian masyarakat bisa memanfaatkan dengan maksimal, nanti akan terjadi Jayanya sebuah masa.

 

TIGA TAHUN INFOGUNUNGKIDUL DI PENGHUJUNG 2019

Page: 1 2

infogunungkidul

Recent Posts

Kekeringan di Gunungkidul, UPZ UP45 Salurkan Puluhan Ribu Liter Air Bersih di Ngawen

GUNUNGKIDUL— KAMIS PAHING, Di tengah persoalan kekeringan yang terus terjadi pada setiap tahun, kebutuhan air…

1 hari ago

Puluhan Gambar Muncul, Berikut Hasil Lengkap Bukaan Cupu Kyai Panjala

GUNUNGKIDUL - SELASA KLIWON. Upacara adat tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala dilaksankan pada hari ini,…

4 hari ago

Hari Jadi ke-196, Bupati – Wakil Bupati Gunungkidul Kian Memanas

GUNUNGKIDUL - MINGGU PON, Beberapa agenda kegiatan peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196 terlaksana dengan…

5 hari ago

Bukaan Cupu Kyai Panjala Malam Selasa Kliwon, Salah Satu Ritual Sakral di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL - JUM'AT LEGI, Ritual adat pembukaan Cupu Kyai Panjala di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar,…

1 minggu ago

Polda DIY Gelar Sertijab Dirreskrimum, Kabidkeu, Kapolresta Sleman dan Kapolres Gunungkidul

YOGYAKARTA - SABTU KLIWON, POLDA Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar serah terima jabatan Direktur Reserse Kriminal…

2 minggu ago

Pucuk Pimpinan Polda DIY Resmi Berganti

YOGYAKARTA - JUM'AT WAGE, PUCUK pimpinan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi berganti, setelah Kapolri…

2 minggu ago