Beragam Makanan Tradisional Dapat Ditemukan di Pasar Argowijil

240

WONOSARI – Rabu Pahing | Ingin berburu kuliner khas tempo dulu, di Pasar Ekologis Argowijil, Desa Gari, Kecamatan Wonosari tempatnya. Pasar wisata kuliner yang ramai di setiap Minggu pagi ini, menyuguhkan ragam makanan khas pasar tradisional seperti nasi jagung, botok manding, gatot, tiwul, gethuk, gudeg dan sejumlah makanan tradisional lainnya.

Pasar yang dibangun di atas tanah bekas pertambangan batu kapur ini, tergolong mudah aksesnya. Dari kota Wonosari ke arah Kecamatan Nglipar, tiba di perempatan Padukuhan Karangtengah belok ke arah Desa Gading. Disanalah nanti sudah ada papan petunjuk untuk menuju pasar.

 

DDN DIGADANG MENJADI PERSINGGAHAN TURIS

 

Ketua Pedagang Pasar Ekologis Argowijil, Tolip menjelaskan, tempat dibangunnya Pasar Ekologis Argowijil dahulunya merupakan sebuah pegunungan atau bukit tinggi, masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Wijil. Dahulu Gunung Wijil sempat ditambang oleh masyarakat sekitar, untuk bahan material bangunan.

Seiring berjalannya waktu, penambangan menjadi aktivitas masyarakat sebagai mata pencaharian. Sehingga batuan kapur tersebut lambat laun semakin menipis dan habis dan menjadi daratan yang landai.

“Penambangan mulai dihentikan oleh Pemerintah Desa, sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kerusakan lingkungan yang lebih parah,” jelasnya, Minggu, (15/12/2019).

Akhirnya, lanjut Tolip, Gunung Wijil mendapatkan rekomendasi program pemulihan lahan kritis, oleh Kantor Penanggulangan Dampak Lingkungan (KAPEDAL) atau saat ini disebut Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul.

Rekomendasi tersebut diajukan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, untuk dilakukannya program reklamasi atau pemulihan lahan kritis. Reklamasi yang dilakukan berupa pengurukan dengan tanah berupa lubang cekungan bekas aktivitas penambangan yang ada di tempat tersebut agar menjadi rata.

“Selanjutnya dalam pemanfaatannya dibangunlah Pasar Ekologis. Kedepannya pasar akan dikelola untuk kesejahteraan masyarakat  sekitar,” jelasnya.

Tolip menjelaskan, Pasar Argowijil ini terdiri dari dua Los, yakni Los Pule dan Los Joho, filosofi dari nama Los tersebut adalah Pule itu Pusating Lelaku, kemudian Joho itu adalah Joyoning Kahono. Artinya ketika pasar ini menjadi pusat untuk perekonomian masyarakat, kemudian masyarakat bisa memanfaatkan dengan maksimal, nanti akan terjadi Jayanya sebuah masa.

 

TIGA TAHUN INFOGUNUNGKIDUL DI PENGHUJUNG 2019




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.