Berdagang Air Bersih di Gunungkidul

217

WONOSARI-SENIN WAGE | Persoalan pemenuhan air bersih di Kabupaten Gunungkidul hingga akhir 2020 berdasarkan Raperda RPJMD 2021-2026 baru terlayani 66,64%. Dua tokoh mengungkit kemungkinan berdagang air bersih murni provit oriented.

Beberapa tokoh di luar Eksekutif dan Legeslatif bicara soal kemungkinan adanya investor yang berminat menanamkan duit di jalur usaha berjualan air bersih.

“Kalau diserahkan kepada swasta penuh mungkin ada investor yang berminat, tapi kalau disuruh menyuntikkan investasi ke PDAM Tirta Handayani saya kira pikir dua kali,” tulis Slamet S.Pd MM via aplikasi WhatsApp, 12-7-2021.

Jika orientasinya cuma eksploitasi terhadap sumber air yang ada pasti tidak akan selesai, sudah berapa puluh spamdes yang kolaps karena airnya habis, sehingga mangkrak. Ke depan harus disiapkan gerakan penghijauan, memanen air hujan, membuat bendungan sungai oya, harus dilaksanakan tidak hanya didiskusikan saja.

Sementara terkait kerjasama investasi, Pemkab Gunungkidul terkendala Perda Nomor 9 tahun 2019 Tentang PDAM Tirta Handayani.

Pandangan yang bernada pesimis” dikemukakan salah satu warga Girisubo yang karena tugas negara kini berdomisili di kota Depok.

Pak Dhe Pardiyo, demikian tokoh yang dimaksud, tergoda ikut memberi sumbang pikir tentang penangan air bersih yang nyaris kronis tak kunjung terselesaikan.

“Tipis Kemungkinannya karena investor menginginkan modalnya cepat kembali. Menanam duit di air itu BEP-nya lamban,” kata Pak Dhe Pardiyo.

Tapi, lanjutnya, tidak tertutup kemungkinan Kalau Pak Slamet Harjo atau Pak Suharno NasDem bertindak sebagai Ownernya.

“Membuat konsep sekaligus rancangan anggaran biaya pembangunan pengadaan air bersih yang meliputi 10 kapanewon itu, pasti beda urusannya. Kemungkinan besar ada investor yang melirik bisnis air,” tegasnya. (Bambang Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.