GUNUNGKIDUL-JUM’AT PON | Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten GunungkIdul, Rismiyadi, SP, M.Si melakukan terobosan untuk mengantisipasi harga pupuk pabrik yang harganya dirasa kelewat mahal. Guna meringankan beban petani, Dinas mempelopori pembuatan dan penggunaan pupuk organik cair (POC) dengan bahan dasar rerumputan serta dedaunan yang tumbuh di sekitar rumah.
“Saat ini kami sedang mengembangkan POC dari larutan tumbuhan atau rerumputan yang diketahui mampu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit juga mampu menekan penggunaan pupuk pabrik hingga 50 sampai 90 persen,” ujarnya, 17-11-2022, dalam perjalanan pulang dari kantor, Kamis sore.
Dia mengatakan, POC itu Namanya biosaka. Penjelasannya, terang Risamayadi, bio adalah tumbuhan, sedang saka singkatan dari selamatkan alam kembali ke alam.
Dia menambahkan biosaka bahannya berasal dari ramuan daun, diremas tangan secara manual, tak boleh pakai mesin.
Bahannya minimal 5 jenis rumput atau daun yang sehat sempurna dicampur air, tanpa ditambahi apapun.
Peremasan sampai homogen harmoni koheren, tidak boleh pakai mesin blender. Hasilnya bisa langsung disemprotkan ke tanaman, sisanya bisa disimpan hingga 5 tahun.
Satu genggam rumput diremas dicampur air 5 liter cukup untuk area 3-4 hektar padi jagung kedelai singkong sorgum, ubi, kacang, sayuran, buah dan yang lain.
Ramuan biosaka efektif di area wilayah setempat, terjauh radius 20 km, tidak efektif diaplikasikan di wilayah lain karena soal agroekosistem.
Biosaka itu bukan pupuk, bukan pestisida, tetapi elisitor berperan sebagai signal perangsang pertumbuhan tanaman, hemat pupuk kimia sintetis, meminimalisir hama penyakit, lahan menjadi lebih subur.
Menurut Prof Robert Manurung dari ITB biosaka ini disebut elisitor dari ilmu epigenetic.
Di lokasi ujicoba, demplot standingcrop jagung, padi dengan biosaka lebih bagus dibandingkan dengan yang tidak diberi biosaka, produksi lebih tinggi.
Hasil uji Lab, dalam biosaka kandungan hara makro-mikro rendah. Biosaka bukan pupuk, tidak beracun bagi tanaman, banyak kandungan enzim, spora dan bakteri tinggi, mengandung PGPR ZPT bagus untuk pertumbuhan tanaman dan produksi. Hasil lab pada beras: kandungan amilosa lebih tinggi.
Menggunakan ramuan biosaka, biaya nol rupiah gampang dibuat sendiri, bagi petani tidak ada risiko kerugian, dan menghemat biaya pupuk kimia 50-90%. Petani pakai pupuk kimia biasanya merogoh kocek Rp 3 juta per ha per musim, menjadi cukup Rp 0,3 – 1,5 juta per ha per musim.
“Biosaka mengurangi serangan hama penyakit, lahan menjadi subur dan produksi lebih bagus,” tandas Rusmayadi.
Direktur Komersil PT Petrokimia Gresik, T. Nugroho Purwanto bersama Bupati Kediri, Haryanti Sutrisno, saat panen padi Maret 2015 mengatakan penggunaan pupuk kimia mampu menghasilkan 10 ton gabah kering giling per ha, disemprot biosaka hasilnya bisa sampai 12 ton lebih per ha.
Ir. Yuwono Raharjo Sekdin Pertanian dan Pangan Gunungkidul membumbui, awalnya ditemukan pupuk organik cair dari urine kambing dan kelinci sekarang ada yang lebih ampuh yakni biosaka, yang bahan bakunya setiap orang punya persediaan.
(Bambang Wahyu)
BANTUL - SENIN PAHING, Sebuah truk tronton terguling di Jalan Wonosari kawasan tikungan Bokong Semar,…
JAKARTA-KAMIS PON, BERTEPATAN dengan 28 tahun jatuhnya Orde Baru, sebuah buku sejarah kolektif tentang gerakan…
GUNUNGKIDUL - MINGGU WAGE, Kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan dua sepeda motor terjadi…
SLEMAN - JUMAT PAHING, SEORANG pria asal Kabupaten Gunungkidul yang berdomisili di Kecamatan Seyegan, Sleman,…
GUNUNGKIDUL-RABU KLIWON, Dalam sepekan terakhir kasus pencurian dengan pemberatan terjadi di wilayah hukum Polsek Nglipar.…
GUNUNGKIDUL – SABTU WAGE, Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan dua sepeda motor terjadi di Perempatan…